[follow dulu sebelum membaca]
-selesai-
Widya memiliki hobi yang sama dengan kebanyakan wanita remaja pada umumnya, ia sangat suka dengan hal berbau romantis termasuk novel romantis. Suatu hari, sahabatnya merekomendasikan sebuah novel yang sedang h...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Vanya!!"
Semua orang terlihat terkejut sekaligus khawatir begitu Juna dengan keadaan basah kuyup berhasil membawa Vanya kembali ke atas permukaan air. Baik Lisa maupun Rika terlihat menangis dan segera mungkin menghampiri Juna.
Rika langsung memangku kepala Vanya setelah diturunkan dari gendongan Juna, Lisa terlihat menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah gadis yang sedang menutup matanya itu.
"V-Van… bagun Van! Buka mata lu… . P-Plis,,," Suara bergetar keluar dengan susah payah dari mulut Rika, sedangkan Lisa? Ia menangis tersedu-sedu sampai tak bisa membuka mulutnya.
Kerumunan yang mengelilingi Vanya kini terbelah akibat suara pak Teja. Pria tua itu terlihat takut, bagaimana tidak takut? Ia bisa saja kehilangan pekerjaannya kalau sampai terjadi apa-apa dengan siswanya ini.
Walaupun dengan sikap yang sangat buruk, sering bolos, dan nilai di bawah rata-rata para guru tetap tak sanggup untuk memberikan Vanya SP atau sekedar teguran. Kekuasaan Vanya disekolah itu bahkan lebih besar dari pemilik sekolah itu sendiri. Keluarga Wijaya memang sudah lama menjadi donatur disekolah ini, bahkan bisa dibilang sebagian besar biaya sekolah ditanggung oleh keluarga Wijaya. Hal inilah yang menjadi alasan dari keringat dingin Teja.
"Rika, Lisa, Juna kalian mendingan bawa Vanya ke UKS sekarang, dan jangan lupa panggilkan bu Siti bilang disuruh pa Teja" Perintah Pak Teja yang di angguki oleh Rika Lisa dan Juna.
Juna memegang kepala Vanya ditangan kanannya, dan kaki Vanya ditangan kirinya, mengangkat badan Vanya dengan perlahan, dan menatap mata yang tak kunjung terbuka itu.
Rika dan Lisa dibuat keheranana dengan tindakan Juna, mulai dari menolong Vanya sampai sikap lembut yang ia berikan kepada Vanya, sikap yang biasa hanya ia berikan kepada Putri. Juna memberikan kode kepada Rika dan Lisa untuk mengikutinya, dan di angguki oleh keduanya.
Juna melangkah, meninggalkan ruangan yang menjadi penyebab keadaan Vanya sekarang.
Sedangkan seorang siswi yang sedang berada di kolam renang menatap tak suka ke arah punggung tegap milik Juna. Menatap tak suka kepada orang-orang yang memberikan tatapan Khawatir kepada Vanya. Menatap tak suka kepada pak Teja yang masih terlihat takut dan khawatir.
Tanpa sadar bibirnya terbuka sedikit dan mulai mengeluarkan suara.
"Kalo aja gua yang pingsan, pasti mereka gak sepanik itu. Cih."
٪٪٪
"Gua panggil Bu Siti dulu bentar"
Sekarang, tiga orang tengah berdiri di ruangan yang dipenuhi oleh warna putih. Salah satu dari 3 orang tersebut basah kuyup, seolah mengabaikan rasa dingin yang berulang kali mencoba untuk menembus kulitnya, sedangkan 2 yang lainnya berdiri dengan wajah khawatir menatap pada seorang wanita dengan kaus hitam yang sedang terbaring memejamkan matanya.