[follow dulu sebelum membaca]
-selesai-
Widya memiliki hobi yang sama dengan kebanyakan wanita remaja pada umumnya, ia sangat suka dengan hal berbau romantis termasuk novel romantis. Suatu hari, sahabatnya merekomendasikan sebuah novel yang sedang h...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hai Van"
Vanya langsung mematung dan terdiam ditempat. Tatapannya kini terpaku kepada seorang pria dengan tuxedo gelap dan kemeja berwarna putih. Pria yang terlihat sangat sempurna sekarang dengan rambut yang tertata rapih tak lagi berantakan.
"Adrian?" Ucap Vanya masih tak percaya kalau pria dihadapannya ini adalah pria menjengkelkan yang tak pernah serius.
"Lu… ganteng banget malam ini" Ucap Vanya yang tanpa sadar membuat rona merah diwajah tampan Adrian sekarang.
Adrian menundukkan kepalanya dan memperhatikan penampilannya, "Gua juga gak nyangka gua bisa kaya gini haha, ini pertama kalinya gua pake pakaian mahal kaya gini"
"Ini buat gua Van?" Lanjut Adrian.
Vanya mengangguk, "Apapun yang ada dibadan lu sekarang adalah milik lu"
"Silahkan duduk" Ucap Vanya seraya menunjuk bangku depannya yang kosong.
Saat ini mereka tengah berada di salah satu cafe di Jakarta. Setelah kejadian di sekolah bersama ayahnya, Vanya yang tak kunjung bertemu Adrian pun meminta pria ini agar menemuinya dengan pakaian yang sudah ia siapkan.
"Kok sepi Van?" Ucap Adrian selepas memperhatikan sekitar.
Vanya mengangguk, "Gua udah nyewa cafe ini untuk kita"
Adrian menganga. Menyewa? Cafe sebesar ini? Kalau dia jangan kan menyewa untuk sekedar masuk saja ia akan insecure. Kapan kekayaan Vanya akan surut.
"Mau makan apa?" Ucap Vanya seraya membaca buku menu.
Adrian diam, ia hanya membolak-balikan halaman buku berisi menu yang tersedia. Ia tak henti-hentinya terkejut saat melihat gajinya satu bulan bisa menjadi harga desert disini.
Adrian menggaruk tengkuknya, "Ngikut aja deh Van"
Vanya mengangguk lalu berbicara kepada pria dengan setelan yang tak kalah rapih dari Adrian. Tak lama pria itu mengangguk dan pergi menjauhi mereka.
Vanya menatap Adrian yang masih saja menoleh ke kanan dan ke kiri. Tak jarang Vanya terkekeh saat melihat pria itu menganga akan dekorasi cafe ini.
Lamunan Vanya kembali terpecah saat seorang pelayan membawa satu nampan penuh dengan menu yang baru saja Vanya pesan.
Suasana kembali hening.
Entah mengapa, saat ini Vanya lebih memilih untuk menatap pria di hadapannya yang tengah lahap menghabiskan satu persatu makanan yang di suguhkan daripada menatap makanan yang selama ini menjadi kesukaannya.