(+) Dua Puluh Satu

11.2K 741 30
                                        

Hayo... Jangan lupa vote dulu!

"Well… well… well… lihat siapa yang datang"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Well… well… well… lihat siapa yang datang"

Putri menghentikan langkahnya, tatapannya yang sedari tadi menunduk kini mendongak dan melihat 2 orang wanita dengan pakaian yang sangat ketat. Tak ada satupun atribut disana,hanya ada rambut terang menyala dan serta permen tangkai tengah menari-nari dimulut merah mereka, sama sekali tak mencerminkan penampilan pelajar.

Putri memelaskan pandangannya, mata hitamnya mulai mengeluarkan bulir-bulir air bening. Sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Cih… sekarang pura-pura nangis nih?" Ucap wanita yang satunya lagi. 

Mereka Ratu dan Prisila, salah satu anak buahnya Vanya. Sekedar info, tak hanya Juna yang memiliki geng tapi Vanya juga. Bedanya kalau anak buah Juna lebih dewasa, anak buah Vanya lebih ganas dan liar, Ratu dan Prisila contohnya. 

"Sekarang, apapun yang lu lakuin gabakal ada efeknya… mau lu nangis, mau lu kayang, apapun yang lu lakuin gak bakal ada yang peduli…"

Ratu melangkahkan kakinya, berjalan mendekati Putri dengan sebuah gunting disana yang sukses membuat Putri ketakutan bukan main. 

"Sang Raja sudah meningalkan sang Putri, dan tanpa sang Raja,sang Putri gak bisa melakukan apa apa bukan?" Ratu menempelkan ujung gunting nya diatas pipi Putri. 

"Tanpa Juna lu bukan siapa-siapa ngerti?" Ucap Ratu dengan menekan gunting itu, membuat sedikit luka di wajah mulus Putri. 

Ratu menjauh saat melihat Putri sudah menangis, mata biru itu menyapu keadaan terlihat beberapa siswa yang memperhatikan mereka. Ini bukanlah hal baik untuk mereka. Karna walaupun dengan status 'anak buah Vanya' tapi mereka tak punya kekuasaan seperti Vanya. Guru-guru bisa saja menghukum mereka berdua jika ketahuan membully.

"Ikut gua" Ucap Ratu menarik tangan Putri kasar dan membawanya dengan tergesa-gesa. 

"Aduh…" Putri meringis saat bahu mungilnya menghantam tembok gudang sekolah dengan kencangnya. 

Sekarang hanya tersisa mereka bertiga, hanya ada Putri, Ratu dan Prisila. Membuat suasana mencekam sangat terasa. 

"Kalo dulu kita gak berani buat nyentuh lu, karna ada Juna disamping lu"

Kali ini Prisila yang bersuara. 

"Tapi sekarang lu gak punya siapa siapa kan? Bahkan Vanya udah gak perduli sama lu, sekarang kita bebas buat nyentuh lu" Prisila mendekatkan wajahnya kehadapan Putri. 

"Gua bakal kasih tau apa posisi lu yang sebenarnya disekolah ini, posisi awal lu. Bukan siapa-siapa, seperti dulu kan? Pantes diinjek-injek" Prisila menarik tas yang sedari tadi terletak dibahu Putri. 

Prisila mengeluarkan semua isi tas itu, hanya ada beberapa buku catatan, kertas kosong, beberapa alat tulis, dan sebuah papan jalan. 

"Lu beruntung karna baru ketemu kita hari ini Put,hari ini hari terakhir ujian. Kalo aja kita ketemu kemarin, gua pastiin lu gak bisa ikut ujian" Prisila menaikkan salah satu sudut bibirnya seraya mengeluarkan korek yang biasa ia gunakan untuk merokok, ya Prisila merokok. 

Antagonist Revenge Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang