[follow dulu sebelum membaca]
-selesai-
Widya memiliki hobi yang sama dengan kebanyakan wanita remaja pada umumnya, ia sangat suka dengan hal berbau romantis termasuk novel romantis. Suatu hari, sahabatnya merekomendasikan sebuah novel yang sedang h...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jangan biarkan siapapun masuk ke kamar saya!"
Dengan penuh emosi dan sumpah serapah disetiap langkahnya, Juna memasuki rumah dengan tangan mengepal dan menuju kekamar dengan ekspresi penuh kemarahan.
"Baik Tuan Muda" Seorang pelayan menunduk seraya memberi hormat saat Juna berjalan di hadapannya.
Jika sudah dalam suasana hati yang buruk, bahkan bernafas pun bisa jadi kesalahan dimata Juna. Jadi lebih baik menuruti apapun itu dan mencoba berada di zona aman jika masih ingin pekerjaan.
Brak!
Sebuah dorongan kencang dirasakan pintu jati dengan ditutupi oleh cat berwarna putih yang tak bersalah.
Juna mengedarkan pandangannya, mencari apapun untuk menetralisir rasa marahnya. Dengan penuh amarah Juna membanting dan menghancurkan apapun yang ada di hadapannya, apapun. Kamar yang semula tertata rapih kini menjadi berantakan bak 'kapal pecah'. Kasur besar yang sudah lagi tak ditutupi oleh sprei, berbagai macam foto yang tak lagi berada di bingkainya, dan baju-baju yang tak lagi menggantung di lemarinya.
Kini pandangannya bertemu dengan foto dirinya dan Vanya yang di ambil saat mereka baru memasuki SMP. Difoto itu Juna dan Vanya tersenyum cerah dengan seragam SMP yang masih kebesaran dan kaku. Dengan Vanya yang memamerkan pose andalannya yaitu 2 jari dan Juna yang tersenyum tanpa tambahan gerakan apapun.
Foto itu adalah satu-satunya benda yang bertahan dari amukan Juna sekarang, satu-satunya benda yang masih setia di tempatnya dan masih utuh. Dengan tangan yang sudah berdarah akibat terkena kaca Juna perlahan meraih foto itu.
Rasanya ingin sekali Juna membanting foto ini tapi entah mengapa hati kecilnya tak mengijinkan itu. Ini adalah satu-satunya 'kenang-kenangannya' dengan Vanya.
Perhatian Juna yang semula ditumpahkan kefoto penuh kenangan ini kini beralih kearah pintu yang baru saja ia banting.
Seorang pria dengan wajah yang sangat familiar tengah memakai baju serba hitam dan bawahannya yang senada kini berdiri tepat dipintu kamar Juna dengan sebuah tas yang biasa ia pakai saat ia hendak menuntut ilmu.
"Seinget gua tadi gua minta jangan ada yang masuk" Ucap Juna dengan kembali menatap foto itu.
Adrian terkekeh, "Ada yang lebih penting daripada perintah lu sekarang"
Juna menatap Adrian dengan marah, lalu berjalan mendekatinya setelah meletakkan foto itu.
"Lu lupa? Ini rumah gua. Jadi apapun yang keluar dari mulut gua maka mutlak hukumnya" Ucap Juna menatap Adrian dingin.