[follow dulu sebelum membaca]
-selesai-
Widya memiliki hobi yang sama dengan kebanyakan wanita remaja pada umumnya, ia sangat suka dengan hal berbau romantis termasuk novel romantis. Suatu hari, sahabatnya merekomendasikan sebuah novel yang sedang h...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Van?"
Vanya tersentak, lamunannya buyar begitu saja saat bisa Darsih menegurnya. Entahlah, sejak memasuki halaman rumah ini Vanya tak henti-hentinya melamun dan tercengang. Sekarang ia sudah pulang dari rumah sakit itu, lalu kini ia berada di ruang utama dari rumah yang lebih pantas Vanya sebut istana.
Bagaimana tidak? Di 'kehidupan sebelumnya' ia hanya tinggal di rumah kecil bersama ibunya, dengan pekerjaan ibunya sebagai buruh cuci rumah dengan 2 kamar saja sudah cukup mewah baginya. Namun sekarang, ia berdiri di tengah-tengah perabotan yang sudah bisa di perkirakan sangat mahal. Rumah ini memiliki 2 tingkat dengan 7 kamar utama di dalamnya. Seingat Widya, keluarga Wijaya hanya beranggotakan 3 orang, bukan kah kita bisa membuat 4 kamar lainnya sebagai kos-kosan?.
"Non Vanya, kita ke kamar sekarang atau mau makan sesuatu dulu Non?" BI Darsih lagi-lagi membuyarkan lamunan Vanya, "Eh? Kekamar aja bi" Jawab Vanya sedikit canggung. Bagaimana tidak? Jika di kehidupan sebelumnya bi Darsih mungkin cukup pantas Vanya panggil dengan sebutan 'nenek' jadi untuk menganggap bi Darsih sebagai bawahan agaknya sedikit susah bagi Vanya 'yang baru'.
Setelah mengangguk, bi Darsih dengan cekatan dan secara perlahan membantu Vanya untuk melangkah. Ia merangkul Vanya dengan erat saat sedang menaiki tangga. Dalam diam Vanya menatap wanita tua itu, tanpa sadar Vanya dibuat terdiam olehnya. Kehidupan berkeluarga Vanya di kehidupan nyata cukup berantakan. Ibu dan ayahnya cerai, ibunya menjadi janda dan harus menghidupi Widya seorang diri, sedangkan nenek. Entah kenapa Widya tak seberuntung orang lain dengan memiliki nenek yang penuh kasih sayang seperti ini.
Tanpa terasa Vanya dan bi Darsih sudah memasuki kamar Vanya. Sekali lagi Vanya sukses melongo melihat kamarnya sendiri. Ruangan luas ini lebih pantas di jadikan ruang tamu daripada kamar. Kamar ini memiliki ruang ganti dan kamar mandi yang terpisah. Benar-benar sepertinya Vanya bisa membuat kamarnya menjadi studio tari sangking luasnya.
Yang membuat Vanya lebih tercengang lagi, semua perabotan di dalamnya berwarna pink pastel dan putih, membuat mata sejuk saat pertama kali memasukinya. Semuanya tertata rapih, bahkan gorden super panjang yang menutupi pintu kaca itu terlihat sempurna. Vanya melepaskan pegangan dari bi Darsih, ia berjalan perlahan sambil terus menatap cahaya yang menembus pintu kaca besar ini. Dengan perlahan Vanya membuka pintu itu, dan boom. Pemandangan kota Jakarta langsung menyelimuti mata coklat Vanya, ramainya jalanan serta pepohonan yang tanpa sadar membuat air mata Vanya menetes.
"Non?" Ucap bi Darsih sambil mendatangi Vanya yang masih bengong di teras kamarnya, "Non udaranya gak bagus buat nona. Kita masuk ya Non? Mau bibi siapin air mandi?" Tawar Darsih dengan lemah lembut kepada Vanya. Vanya menatap Darsih dengan mata yang di lumuri air mata, "Bibi istirahat aja" Ucap Vanya tak kalah lembut.
"Maaf Non?" Ucap Darsih spontan seakan tak percaya, kening Vanya berkerut memang nya apa yang salah dengan kata-katanya barusan. Matanya terbuka besar saat menyadari kalau sekarang ia sedang memerankan Vanya bukannya menjadi Widya. Bagaimana bisa ia lupa dengan sikap kejam Vanya kepada setiap pembantunya. Bahkan Widya ingat, disalah satu bagian Novel Vanya pernah melemparkan gelas kaca cantik ke arah Darsih hanya karna teh yang diberikan kepadanya terlalu manis. Pantas saja kalau Darsih terkejut dengan kata-kata yang baru saja Vanya katakan.