(+)Lima Belas

22.9K 2.1K 111
                                        

"VANYA!!"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"VANYA!!"

Sudah tiga kali berturut-turut Adrian meneriaki nama yang sama dari mulutnya. Selagi mengejar wanita yang sedang berlari dihadapannya ini, Adrian tak henti-hentinya mencoba untuk menggapai tangan sang wanita.

"Vanya plis dengerin gua dulu... gua minta maaf gua lepas kendali tadi" Bela Adrian seraya mencoba untuk meraih tangan Vanya, menghentikan adegan kejar-kejaran ini.

Vanya tak peduli lagi, entah seberapa banyak pasang mata yang sedang menatap dirinya maupun Adrian sekarang. Ia kembali menyeka air matanya, bayangan Adrian menempelkan bibirnya dibibir Vanya tak henti-hentinya membuat hatinya terasa panas.

Kalau menuruti emosi, bisa saja Vanya menampar Adrian dan mempermalukannya. Namun entah mengapa tangan yang sedari tadi sibuk menghapus air mata yang turun di wajahnya itu enggan untuk melayangkan tamparan diwajah panik Adrian.

"Van tunggu" Langkah kaki Vanya berhenti ketika ia merasakan ada yang menahan tangannya.

"Van plis dengerin gua" Ucap Adrian terengah-engah sambil berusaha agar usaha Vanya untuk melepas genggaman tangannya gagal.

"Van plis... dengerin gua dulu..." Ucap Adrian memohon yang akhirnya sukses membuat Vanya membalikkan badannya.

Raut menyesal langsung terlukis jelas di wajah Adrian yang masih terengah-engah itu. Rasanya tangan yang gemetar ini ingin sekali menghapus air mata yang sedari tadi turun dari mata indah itu.

"Gua.. Gua tadi gak sengaja, gua bener-bener lepas kendali waktu liat muka lu Van" Adrian menautkan alisnya, mencoba sebaik mungkin mengekspresikan berapa menyesalnya dirinya.

"Muka gua kenapa? Ada apa dengan muka gua? Engga... ini bukan salah lu, ini salah gua karna gua percaya sama lu...Salah gua karna gua membuka sedikit ruang untuk lu isi dihidup gua!" Vanya menunjuk wajah Adrian, meletakkan jari telunjuknya tepat di hadapan wajah Adrian.

"Gua siap Van... gua siap buat ngisi ruang yang lu siapin buat gua" Sahut Adrian begitu mendengar balasan Vanya.

"Haah...siap?" Vanya menaikkan satu sisi bibirnya, menggambarkan kalau ia menganggap remeh apa yang baru saja Adrian ucapkan.

"Baru aja gua mau ngebuka ruang itu dan lihat apa yang lu lakuin sama gua?" Lanjut Vanya.

"Engga... gua beda, gua gak kaya tunangan lu Van. Lu harus berusaha ngerubah pandangan hidup lu, lu harus bisa menerima kedatangan seseorang dihidup lu Van, buat kebaikan lu" Ucap Adrian berusaha meyakinkan Vanya.

"Gua? Berubah? Kenapa harus selalu gua yang berubah? Gak sama lu gak sama Juna kenapa sih harus gua yang berubah?! Gua gua gua... Kenapa selalu gua!?!" Vanya menaikkan nada suaranya. Raut wajah frustasi begitu jelas terlihat diwajahnya sekarang.

Vanya terdiam sejenak.

"Ngerubah cara pandang gua? Kebaikan? Terakhir kali gua berusaha ngerubah pandangan gua, gua kehilangan sahabat sekaligus tunangan gua. Dan sekarang sekali lagi gua berusaha buat ngerubah pandangan gua, gua kehilangan kesucian bibir yang selama ini gua jaga. Lain kali apa? Gua bakal kehilangan keperawanan gua juga?" Vanya melebarkan matanya, berusaha sekeras mungkin menahan air mata yang sedari tadi sudah berada dipelupuk mata.

Antagonist Revenge Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang