Pelangi melahap permen gula kapasnya sembari sesekali melirik ke samping. Dimana terdapat Zoe berjalan santai di sebelah gadis itu.
Mereka berdua jelas berbeda. Jika Pelangi tidak menyukai bakso, maka Zoe pecinta bakso sejati. Ketika Zoe lebih suka nongkrong, Pelangi lebih memilih beres-beres rumah. Jika Pelangi begitu candu dengan permen kapas, maka Zoe tidak menyukai makanan manis dan penggila makanan pedas.
Pernah waktu itu, Pelangi dengan sengaja menjejalkan permen kapas ukuran besar ke mulut Zoe dan berakhir cowok itu ngambek selama seminggu penuh. Berbeda dengan Rayden yang selalu merecokinya saat Pelangi tegah memakan permen gula kapas kesukaannya.
Mungkin, perbedaan itulah yang membuat pertemanan mereka bertahan sampai sekarang.
Zoe tidak pernah mau mendekati perempuan lebih dulu. Sementara kaum perempuan juga enggan mendekat kalau sudah menatap wajahnya yang memang kelihatan begitu judes.
"Zoe."
"Apa?"
"Lo sama Rayden deket banget, ya?"
Sepertinya, Pelangi sudah gila. Lantaran isi kepalanya hanya diisi nama cowok itu saja.
Zoe menoleh sebentar, lalu menyahut santai, "Sama kayak Lo sama temen Lo... siapa itu namanya?" Dia kelihatan berpikir. "Edan?"
"Elen!" Gadis itu meralat cepat.
"Hooh Elen."
Masih ingat, kan, kalau Zoe tidak tahu betul lingkup pertemanan Pelangi di sekolah. Dia hanya hafal wajah Elen tanpa tahu namanya dengan jelas. Pelangi justru lebih tidak tahu siapa sajakah teman-teman Zoe, meski sekarang sudah tahu. Itu pun berawal karena dia mengenal Rayden.
"Deket banget berarti?"
"Ya gitu."
"Dia ada cerita sesuatu gitu nggak sama, Lo?"
Zoe mendengus jengah. "Alah, dia kalo cerita nggak pernah ada yang bermutu!"
Pelangi memiringkan kepalanya. "Contohnya?"
"Burungnya kejepit ritsleting celana diceritain, liat kucing kawin diceritain, pantatnya bisulan juga diceritain," jawab Zoe sembari mengingat tingkah Rayden yang luar biasa menyebalkan. "Mana mau ditunjukin segala lagi."
"Apanya?"
"Pantatnya." Zoe kembali mengingat hal lain lagi. "Dia juga pernah— ceritanya lagi ngevlog, di kamar mandi pas lagi boker."
"Hah?" Gadis itu kontan melongo. "Terus tainya ditunjukin ke kamera, gitu?"
"Ya nggak gitu juga," sahut Zoe setengah kesal. "Jijik banget!"
"Terus?"
"Tutorial ngeden, ceunah. Gila banget itu anak."
Meskipun terkesan sangat menjijikkan— juga terdengar sangat menjengkelkan, tapi entah bagaimana, Pelangi selalu suka setiap kali mendengar cerita Rayden dari mulut orang lain. Mungkin itu salah satu alasan mengapa dia sering menanyakan apapun yang berhubungan dengan Rayden pada Elen, juga Zoe.
"Lo betah temenan sama yang modelan begitu?"
"Lo betah deket-deket sama yang meodelan begitu?" Zoe membalik pertanyaan Pelangi.
"Ya karena... dia baik."
Zoe menaikkan sebelah alisnya. "Baik doang?"
Pelangi diam sejenak, lalu menyahut, "Cakep juga." Dia nyengir lebar.
"Cakep doang kalo kelakuannya kayak gitu ya sama aja. Lagian sejak kapan Lo jadi centil, gini?" tanya Zoe dengan nada heran. "Ngeri gue liatnya."
"Enggak centil, kok," sambarnya, membela diri. "Banci lampu merah tuh yang jelas centil. Eh, masa Rayden nggak pernah cerita yang serius gitu, sih?" Pelangi masih saja penasaran, karena Zoe satu-satunya harapan.
KAMU SEDANG MEMBACA
CERAUNOPHILE [Completed]
Fiksi RemajaSama halnya dengan sebuah lilin di tengah gelapnya malam, seperti itulah hubungan benang raja dengan sang guntur. ©copyright Listikay Oktober 2020.
![CERAUNOPHILE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/245495132-64-k317823.jpg)