Mungkin ini memang bukan bualan, atau sederet kalimat tanpa artian. Hanya sebuah pengakuan, yang mengudara tanpa jawaban. Jika dia, sudah menemukan jalan pulang.
***
Gelap sudah menyapa penduduk bumi kali ini, gemerlap lampu kota menyala secara serempak sejak satu jam lalu. Langit malam tampak lebih cerah dari biasanya.
Namun, ada yang tak biasa bagi Pelangi. Yakni bagaimana jalan-jalan yang Rayden maksud hanya berjalan tidak jelas menyusuri jalanan kota, namun anehnya terasa lebih menyenangkan dari mendapat hadian ulang tahun saat ia masih kecil.
Gadis itu tampak anteng setelah disogok Rayden dengan satu cone ice cream rasa strawberry, membuat Rayden bisa dengan leluasa mendekatkan kepalanya ke arah rambut Pelangi. Mengendus aromanya yang sudah menjadi candu.
Jika berjalan beriringan begini, ternyata tinggi badan Pelangi hanya sebatas dagu Rayden. Tentu menguntungkan untuk sekarang, karena aksinya yang satu itu berjalan dengan lancar tanpa kendala.
Tepat sebelum Pelangi mengaduh lantaran kepalanya terpentok dagu Rayden.
Cowok itu buru-buru menegakkan tubuhnya, tangan kirinya bergerak guna mengusap kepala Pelangi. "Sakit?" tanyanya memastikan.
"Dikit." Gadis itu menjilat ice creamnya lebih dulu, lalu kembali berujar, "Lo ngapain tadi?"
"Nggak ngapa-ngapain." Rayden mengelak, menurunkan tangannya kembali.
Pelangi hanya mengangguk sekilas, terlihat tidak begitu peduli dan kembali sibuk menjilati ice cream di tangan kanannya.
Rayden memandang wajah gadis itu dari samping. "Enak?"
"He'em." Setelahnya, Pelangi menyodorkannya ke arah cowok itu.
Rayden sedikit merunduk, menjilat ice cream di tangan Pelangi tanpa protes. Sensasi dingin menyambutnya, lantas berangsur menghilang setelah ia menelannya. Dia menoleh ke samping. "Udah bilang bokap Lo, kan, Tung?"
"Bilang apa?"
"Ini, keluar malem-malem."
Pelangi menggeleng, terkesan sangat santai.
"Belom?!" Rayden dibuat kalut sendiri. Bertambah jengkel lagi melihat bagaimana tak pedulinya gadis itu.
Pelanggi mengangguk.
"Udah apa belom?!"
Saat Rayden tampak kelabakan menunggu jawaban, Pelangi malah sempat-sempatnya menghabiskan ice creamnya lebih dulu, baru menyahut- masih terlihat amat santai. "Belom."
"Lo gimana, sih?? Entar dicariin, gue juga yang kena. Masa bawa anak orang nggak bilang-bilang!" Rayden ngomel-ngomel. "Siniin hp Lo, biar gue yang bilang."
"Nggak usah, nggak bakal dicariin juga." Pelangi melirik Rayden dengan tatapan sinis. "Hebot amat, Lo. Santai aja, elah."
"Santai pala Lo pantai!" ketusnya. "Kalo ada apa-apa gue ogah tanggung jawab, ya."
"Iya-iya." Pelangi menyahut jengah. Tidak pernah berpikir jika cowok itu lebih heboh dari tetangga sebelah yang setiap pagi suaranya sudah berentet dan menggelegar.
"Dingin, nggak?"
Pelangi meloleh dengan binar bahagia yang tidak bisa disembunyikan. Apakah ini kode-kode dari bermulanya sebuah keuwuan?
"Iya, dingin." Dia menyahut jujur.
Rayden menoleh. "Sukurin!" Lalu pandangannya kembali ke depan.
Baiklah. Berharap pada Rayden memang sebuah kesalahan.
"Pertanyaan Lo nggak guna," celetuk Pelangi begitu datar.
KAMU SEDANG MEMBACA
CERAUNOPHILE [Completed]
Novela JuvenilSama halnya dengan sebuah lilin di tengah gelapnya malam, seperti itulah hubungan benang raja dengan sang guntur. ©copyright Listikay Oktober 2020.
![CERAUNOPHILE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/245495132-64-k317823.jpg)