37. Lean on you

161 27 10
                                        

Pelangi sempat terdiam, cukup lama. Ia menarik nafas dalam-dalam, lalu berujar pelan, “Dia yang jadi alasan kenapa gue takut sama cowok, Den.”

Rayden tiba-tiba saja mendudukkan diri, lantas beranjak menjauhi Pelangi. Membuat gadis itu mengernyit bingung. “Den,” panggilnya dengan kepala menoleh ke belakang. “Mau kemana?”

Rayden menyahut tanpa menghentikan langkahnya. “Ngambil minum.” Sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Pelangi.

Mulanya Pelangi memang tidak masalah. Tapi karena Rayden tidak segera menampakkan batang hidungnya, dia mendadak takut lagi. Tidak kebayang akan seseram apa kalau rumah ini dibiarkan kosong, karena berpenghuni saja masih tampak menyeramkan.

“DEN!”

“JANGAN TEREAK DIBILANGIN!” Cowok itu menyahut tanpa menunjukkan wujudnya. “Kalo nggak sabar gue gampar ntar.”

Pelangi berdecak, lalu tak lama setelah itu Rayden muncul dengan muka setengah basah. Wajahnya kelihatan lebih segar dengan segelas air putih di tangannya.

Dia mendudukkan diri di sebelah Pelangi. “Nih, minum dulu.”

Pelangi kira, Rayden mengambil minum untuk dirinya sendiri. Ia baru akan mengulurkan tangannya, namun cowok itu lebih dulu menjejalkan gelas tadi ke mulutnya. Satu tangan Rayden menahan tengkuk Pelangi.

“Lagi,” ucap cowok itu setelah menjauhkan gelas dari mulut Pelangi. Hanya beberapa saat karena detik berikutnya, dia kembali menjejalkannya ke mulut Pelangi.

Saat Pelangi terbatuk-batuk sambil memegang lengan cowok itu, barulah Rayden benar-benar menjauhkan gelasnya.

“Anjir, penyakitan!” pekik cowok itu sembari menepuk-nepuk punggung Pelangi guna meredakan batuknya.

“PENYAKITAN MBAHMU!” Begitu batuknya mereda, Pelangi langsung nge-gas. “GUE KELELEP KAMPRET!!” Ia yang merasa kesal, asal saja mengelap mulutnya yang basah di baju Rayden.

Sementara cowok itu hanya meliriknya sekilas, lalu menenggak gelas bekas Pelangi dengan santai. Gadis itu sampai heran, tumben-tumbenan Rayden tidak ngomel.

“Lanjut lagi,” perintahnya setelah menaruh gelasnya di atas meja.

Pelangi menaikkan sebelah alisnya. “Apanya?”

“Itu, yang tadi.” Rayden menolehkan kepalanya, menatap Pelangi dari samping. “Dilecehin sepupu sendiri?” tanya cowok itu dengan suara pelan.

Sontak saja, Pelangi menundukkan kepalanya. Ia hanya mengucapkan satu kalimat sederhana, dan Rayden langsung bisa menyimpulkannya. Memang bukan sesuatu yang istimewa, tapi itulah alasannya mengapa ia lebih suka bertukar cerita dengan cowok itu.

“Gue malu,” cicit gadis itu.

“Iya?” Rayden memastikan sekali lagi, tangannya mengusap paha Pelangi sekilas.

“Iya,” sahutnya, terdengar ragu. Ia terdiam cukup lama.

“…”

“Waktu itu gue umur sebelas, setahun setelah Kakak tinggal di rumah dia. Anaknya udah kuliah,” jelas Pelangi pelan-pelan. “Dia tiba-tiba sering ke rumah gue, padahal gue sering sendirian. Awalnya gue ngira dia mau nemenin gue, kayak yang dia bilang… ya padahal kita juga nggak akrab, sih.”

Rayden jelas merasa ada yang tidak beres lantaran setiap dia mengajak Pelangi ke tempat yang ramai, apalagi banyak laki-laki di sana, gadis itu pasti akan langsung mepet-mepet. Raut wajahnya juga langsung berubah.

Dia sengaja tidak menanyakannya, menunggu Pelangi sendiri yang buka suara.

“Terus?”

“Tiga kali dia begitu. Dijeda-jeda ampe gue umur empat belas… awalnya gue nggak tau, nggak ngelawan juga.” Pelangi tidak mungkin menjelaskan secara detail pada Rayden. Yang jelas, tiga kali itu digunakan Daneswara dengan perlakuan yang sama.

CERAUNOPHILE [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang