Ini perihal rasa, yang berhasil menelusup tanpa kata.
Tentu dengan bumbu asmara. Namun, ada satu pertanyaannya.
Bisakah ia mendapat jawaban sekarang juga?
***
Pelangi tidak mengerti seberapa cepat alam bekerja. Namun yang ia tahu, cahaya temaran dari bulan perlahan tertutup awan. Lantas membentuk butiran-butiran kecil yang turun ke bumi. Saat pikirannya masih terisi satu kalimat yang terucap dari mulut Rayden.
"Mereka nggak pernah nyerang muka."
Dalam keadaan yang mendadak diserang panik, Pelangi tidak akan bisa memikirkan maksud kalimat tersebut. Gadis itu bertindak sesuai perintah kepala, berteriak seperti ibu-ibu yang mendapat musibah besar lantaran anaknya hilang entah kemana.
"Den hujan, Den! Ya Allah."
Untuk sejenis orang yang takut petir sepertinya, Pelangi selalu mengecek perkiraan cuaca. Minus kalau ia lupa, ya namanya juga manusia. Tidak mungkin selalu bisa mengingat segalanya.
Tapi untuk malam ini, sepertinya Pelangi memiliki alasan konyol lainnya.
Karena ia terlalu bersemangat keluar rumah malam ini, hanya karena Rayden.
Memalukan!
"Mohon maaf ini gue kagak molor, ya!" Dari depan, Rayden menyahut sewot. Tanpa diberitahu pun dia juga tahu kalau hujan perlahan turun.
"Neduh, woy!"
"Sabar, woy!"
Karena tidak mau mendengar teriakkan Pelangi terlalu lama, Rayden asal memberhentikan motornya di halte yang begitu sepi.
Begitu motor berhenti, Pelangi langsung turun dang ngacir duduk di kursi halte. Diikuti Rayden yang duduk di sebelah gadis itu.
Rayden bukan cowok bego yang menyukai hujan. Ia tidak suka hujan, yang tentu selalu saja membuatnya kerepotan saat sedang berada di luar rumah.
Hujan dan halte mengingatkan cowok itu pada pertemuan pertamanya dengan Pelangi, maka ia menoleh sebelum beralih mengerutkan keningnya bingung. "Lo nggak takut?"
"Enggak," jawab Pelangi terkesan agak sombong. Bahkan tanpa menoleh sama sekali.
"Gimana bisa! Waktu itu aja Lo mengkeret, kan!"
Rayden ingat betul kala Pelangi meringkuk dan wajah ketakutan, tangannya juga terasa dingin. Gadis itu sampai duduk di bawah macam orang minta-minta yang belum makan dua hari.
"Sekarang, kan, nggak ada petir."
Barulah Rayden manggut-manggut. "Lo takut petir? Guntur? Kilat?"
Pelangi hanya mengangguk.
"Kalo takut biasanya ngapain? Minta kelon Mamak?"
Rayden tidak pernah menyangka kala Pelangi menganggukkan kepalanya lagi. "Dulu... waktu Ibu masih ada." Ada guratan pilu di dalam kalimatnya.
"Emak Lo udah modar?" tanya Rayden kurang ajar, yang langsung diralat dengan cepat. "Maksudnya meninggal."
"Ya."
"Sorry."
Pelangi mengangguk maklum. "Udah lama juga, kok. Semenjak Ibu nggak ada, kalau hujan petir gitu gue ngumpet di kolong tempat tidur, dalem lemari, atau di bawah selimut."
"Nggak ada yang ngelonin Lo dong?"
Pelangi tersenyum getir. "Nggak ada."
Mungkin Ibu perlu tahu, jika setelah beliau pergi, hujan petir jadi terasa jauh lebih menakutkan bagi Pelangi. Bahkan sampai ia sebesar sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
CERAUNOPHILE [Completed]
Novela JuvenilSama halnya dengan sebuah lilin di tengah gelapnya malam, seperti itulah hubungan benang raja dengan sang guntur. ©copyright Listikay Oktober 2020.
![CERAUNOPHILE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/245495132-64-k317823.jpg)