Rayden tercekat, nyaris tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. Jantungnya sudah berdegup lebih cepat dari yang seharusnya, tangannya juga ikut bergetar.
“La?” Dia memastikan. Hanya saat-saat tertentu dia memanggil Pelangi dengan sebutan itu.
“Rayden…”
Itu memang suara Pelangi. Gadis di hadapannya memang benar Pelangi. Bukan hantu penunggu sekolah seperti yang sempat Rayden bayangkan.
“Siapa sih, Den?” Binar melangkah mendekat. Ia tidak bisa melihat wajah lawan bicara Rayden karena tubuh tegap cowok itu berhasil menutupinya. Detik berikutnya, setelah berhasil melihat wajah Pelangi, dia histeris. Lalu lari ngibrit.
“Kenapa bisa… gini?” Cowok itu membawa kedua tangan Pelangi yang penuh darah, mengelapkannya di kemeja yang ia kenakan. Suara Rayden terdengar amat lirih… juga lebih lembut dari biasanya.
“Ta-di kebentur…”
“Kebentur sama apa?” Dia beralih mengelap wajah Pelangi dengan tangannya. Lalu mengelapkan lagi di kemeja.
“Bak kamar mandi.”
Rayden membersihkan wajah Pelangi penuh hati-hati, hanya dengan tangannya saja. Sebisa mungkin tidak menyentuh bagian kepala dimana darah menerobos keluar dari sana. Takut jika kuman dari tangannya justru masuk ke dalam luka di kepala gadis itu.
Saat Papa meninggal dengan cara mengenaskan, Rayden tidak tahu apakah tubuh beliau dipenuhi banyak darah atau tidak. Dia tidak melihatnya. Banyak orang yang bilang mencium bau amis waktu itu, tentu itu sudah menjadi jawaban.
Rayden ingat bagaimana ia meraung karena ingin melihat wajah Papa untuk terakhir kalinya, namun jasad beliau tidak diperbolehkan untuk dilihat siapapun.
Hanya dengan begitu, dia tahu jika mungkin saja tubuh Papa memang sudah hancur. Sama seperti keadaan Rayden saat itu.
Dan sekarang, melihat banyak darah di depannya, Rayden tahu alasan orang-orang itu melarangnya melihat Papa. Dia sering mendapati darah di tubuhnya— dan terasa biasa saja. Tapi tidak kali ini lantaran darah yang mengalir dari kepala Pelangi sangatlah banyak.
“Tadi nggak pa-pa…” Pelangi menjelaskan. “Pas gue jalan ke kelas… tiba-tiba banget, berdarah… terus banyak.”
“Sakit?”
“Sekarang enggak.”
“Tadi?”
“Pas kebentur sakit.”
“Besok?”
Pelangi menggeleng. “Nggak tau.”
“Kenapa Lo… nggak nangis?”
“Karena nggak sakit, Rayden.”
“Ke UKS sekarang,” ucap cowok itu yang lantas segera menarik tangan Pelangi, namun gadis itu menahannya.
“Banyak orang… malu.”
Mungkin itu alasan gila yang membuat Pelangi justru bersembunyi di pojok koridor, bukannya berlari ke UKS atau meminta bantuan.
“LO MAU MATI, SU?!”
Pelangi terperangah. Selama mengenal cowok itu, dia tidak pernah melihat Rayden benar-benar marah. Apalagi sampai membentaknya dengan kalimat yang bisa dibilang tidak pantas diucapkan. Tentu sekarang Pelangi percaya, jika orang yang jarang marah bisa sangat mengerikan sekalinya mereka marah.
Rayden manarik nafas dalam-dalam, menetralkan emosinya sebelum kembali membersihkan wajah gadis itu.
Cowok itu tidak mengatakan apa-apa. Namun Pelangi merasa jauh lebih baik kala Rayden memeluknya, kepalanya diusap-usap, tangannya juga. Pokoknya dia merasa seperti disayang-sayang.
KAMU SEDANG MEMBACA
CERAUNOPHILE [Completed]
Novela JuvenilSama halnya dengan sebuah lilin di tengah gelapnya malam, seperti itulah hubungan benang raja dengan sang guntur. ©copyright Listikay Oktober 2020.
![CERAUNOPHILE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/245495132-64-k317823.jpg)