Pulang ke rumah tentu bukan pilihan yang tepat, karena pasti akan berujung sekarat. Lantaran Pelangi dikeroyok seluruh penghuni rumah, tiga orang sekaligus.
Melihat bagaimana Rayden sekarang, keinginannya untuk nekat pulang seakan lenyap begitu saja.
Satu tetes darah yang keluar dari luka cowok itu seakan seperti puluhan goresan yang mengiris hati Pelangi. Yang membuatnya nyaris tak percaya.
Mengapa dia bisa setenang itu dengan tubuh penuh luka?
"Pelan-pelan aja, ya."
Pelangi mengangguk samar, sebelum membersihkan darahnya lebih dulu, penuh kehati-hatian. Gadis itu tidak pernah berada di posisi ini sebelumnya, bagaimana ia mendadak berhadapan dengan kotak P3K tanpa pengalaman.
"Sakit nggak, Den?" tanya Zoe tanpa mengalihkan pandangan. Cowok itu menatap perut Rayden seolah takjub. Atau mungkin ngeri bercampur penasaran.
"Dikit."
Mereka memang menjadikan rumah Zoe sebagai tampungan. Karena di sana mereka bisa leluasa melakukan apa pun tanpa perlu diintrogasi. Zoe memang sering di rumah sendiri, sampai rumahnya terasa benar-benar sepi. Hanya sesekali ada orang datang yang bertugas membersihkan rumah.
"Ada yang dibutuhin lagi nggak?" Zoe melirik kotak P3K yang tergeletak di atas meja. Pelangi menggeleng seperlunya. Namun Rayden menyeletuk dengan santai. "Masakin mie rebus dong Zoe." Seakan dia adalah tuan rumah dan Zoe seorang asisten rumah tangganya.
"Gue dua ya. Laper nih, tambahin sayur juga kalau ada. Pake telur kayaknya enak deh. Lo mau nggak?" Rayden beralih menunduk, menatap Pelangi yang sama sekali tidak menatapnya. "Mumpung ditawarin."
Pelangi menggeleng. Hampir melarang menambahkan telur lantaran takut seluruh luka di tubuh Rayden tidak kunjung kering sebelum teringat jika hal itu hanyalah mitos.
Rayden beralih menatap Zoe. "Sekalian minum. Yang dingin, ya."
Zoe beranjak dengan wajah malas. "Nyesel gue nawarin, Lo!" ujarnya sembari berlalu yang mendapat jawaban kekehan dari cowok kurang ajar itu.
"Lo... nggak jijik?" tanya Rayden sesaat setelah Pelangi selesai melakukan kegiatannya— yang rasanya seperti Pelangi mempunyai kewajiban untuk itu.
Apa harus Pelangi ingatkan jika dirinya juga berdarah setiap bulan? Jadi kenapa harus jijik?
Namun siapa sangka, bukannya mendapat jawaban serupa pertanyaannya. Rayden justru dikejutkan dengan sesuatu yang basah mengenai lengan kirinya.
Cowok itu kebingungan, menoleh ke belakang dimana Zoe menghilang ke arah dapur. Wajahnya benar-benar panik, seperti maling jemuran yang kepergok anjing peliharaan.
"Lo ngapain nangis gila?! Ntar Zoe ngira gue ngapa-ngapain Lo!" Rayden benar-benar gelagapan. Takut jika Zoe sampai melaporkan yang tidak-tidak pada keluarga Pelangi.
Pelangi tidak menjawab, tidak juga mengeluarkan suara isakan. Kepalanya terus saja menunduk.
"Lo nangisin gue?" tanya Rayden sembari menyentuh lengan gadis itu.
Tak disangka, Pelangi menganggukkan kepalanya. Mungkin hal biasa. Tapi untuk Rayden, hal itu tentu bukan sesuatu yang biasa.
"Gue nggak pa-pa kali." Suara Rayden terkesan sangat santai di telinga Pelangi. "Udah, nggak usah mewek, Lo!"
Pelangi memang bukan si pemilik badan yang penuh luka, namun menyaksikan seberapa banyak tubuh Rayden dipenuhi luka, juga bekas hasil luka yang sudah mengering, membuatnya merasa tak tega. Apalagi melihat Rayden yang begitu ceria dengan kondisi seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
CERAUNOPHILE [Completed]
Teen FictionSama halnya dengan sebuah lilin di tengah gelapnya malam, seperti itulah hubungan benang raja dengan sang guntur. ©copyright Listikay Oktober 2020.
![CERAUNOPHILE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/245495132-64-k317823.jpg)