"Mbakyu, Pelangi ada?"
Itu sapaan pertama saat mbak-mbak yang membersihkan rumah Pelangi membukakan pintu.
"Ada di dalem... masuk aja." Karena Rayden sudah sering ke rumah dan terlihat begitu dekat dengan Pelangi, ia mempersilahkan anak ini masuk ke dalam. "Mbakyu lagi manggilnya. Ya Allah," gumamnya memandang punggung Rayden yang semakin menjauh.
Sementara cowok itu mengernyit ketika melihat Pelangi tertidur di sofa dengan tv masih menyala, juga setoples kentang bertengger di atas perutnya.
Dia berjalan mendekat, lekas membuka jaketnya guna disampirkan di atas pinggang gadis itu sampai menutupi paha. Karena kalau sedang di rumah begini, Pelangi sering kali memakai celana pendek di atas paha.
Rayden menundukkan kepalanya, bibirnya mendarat di atas dahi Pelangi selama beberapa saat. Diiringi gumaman pelan cowok itu, "ngambek mulu." Sebelum beralih mengambil toples di perut Pelangi dan duduk di bawah karpet.
Ia mengunyah kripik kentang sambil memfokuskan pandangannya ke depan.
Terhitung sudah tiga hari mereka tampak begitu jauh. Pelangi ngambek karena dalam satu hari, ia memergoki Rayden sedang bersama cewek lain sampai empat kali.
Sebelumnya, Pelangi juga sempat menyuruh Rayden berhenti merokok meski sebenarnya cowok itu tidak pernah merokok begitu saja di hadapannya. Pernah sih, hanya sekali. Itu pun karena terlihat kepepet, agar tidak ketahuan mengambil permen kapas Pelangi di pinggir jalan waktu itu. Dimana Zoe juga ada di sana.
Bertambah pula alasan ngambeknya.
Rayden cukup memaklumi sebenarnya. Soalnya ibarat kata, Pelangi tidak cukup mendapat kasih sayang dari kecil. Baik dari orang tua, maupun dari kakaknya yang berjauhan.
Lalu, setelah merasa disayang olehnya, mungkin Pelangi merasa enggan kalau kasih sayangnya sampai harus dibagi-bagi. Padahal juga mana mungkin Rayden begitu, kan.
Hal itu terdengar wajar untuk Rayden, mengingat kehidupan Pelangi yang tidak sesempurna dan seberuntung anak di luar sana.
Pelangi memang kurang kasih sayang, tapi bukan berarti dia kurang didikan.
Menurut Rayden, dia perempuan kuat yang masih bisa terlihat baik-baik saja sampai sekarang. Sementara Rayden sendiri, sering kali mengeluh lelah sebelum benar-benar mengenal gadis itu.
"Buset!" Rayden memekik saat tangan Pelangi menekan lehernya dari belakang. "Ohok-ohok... " Ia terbatuk-batuk sambil menjauhkan lengan Pelangi.
"Ngambek ya ngambek aja, tapi jangan dicekek. Ntar gue mati Lo mewek."
Karena tidak mendapat respon, ia menoleh ke belakang. Rupanya, Pelangi masih tertidur. Namun ternyata, tidak berselang lama kala Rayden mendengar suara lirih gadis itu.
"Ohhh... Rayden," ucapnya dengan mata menyipit.
"Iya, ini gue."
Beberapa detik setelahnya, Pelangi langsung berteriak heboh. "RAYDEN??!"
Yang dipanggil kaget, sampai membuat kripik kentang di pangkuannya tumpah-tumpah ke atas karpet. "Yah... yah, tumpeh kan."
"NGAPAIN LO DI SINI??" Tau-tau, Pelangi sudah berdiri di atas sofa. Gadis itu kelihatan marah.
Rayden ikutan berdiri, tapi tentu saja tidak sampai di atas sofa macam Pelangi. "Ya ngapel lah, masa ngepel."
"Ngepal-ngepel—,"
"Ngapel." Rayden mengoreksi.
"Ngapel-ngapel! Minggat nggak, Lo??!" Pelangi berseru berang.
"Nggak."
KAMU SEDANG MEMBACA
CERAUNOPHILE [Completed]
Teen FictionSama halnya dengan sebuah lilin di tengah gelapnya malam, seperti itulah hubungan benang raja dengan sang guntur. ©copyright Listikay Oktober 2020.
![CERAUNOPHILE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/245495132-64-k317823.jpg)