10. Titik temu

194 53 6
                                        

Dalam desak yang isinya tidak jauh dari merindu, kamu sudah pasti tertipu.
Jika dia yang terbesit dalam pilu, tidak pernah bergerak menunju temu.

***


Pelangi lebih memilih langsung mati saja daripada harus dihadapkan dengan situasi macam ini. Dimana ia terlihat seperti pelaku pembunuhan yang harus dihadapkan dengan pihak kepolisian.

Hening dan mencekam.

Seperti itulah suasana yang mendominasi sekarang.

"Ayah nggak pernah minta kamu dilahirkan...."

Alih-alih takut- atau mungkin tercengang, Pelangi justru tersenyum.

"Untuk jadi seperti ini," lanjut Alan. "Setelah lulus kamu mau kuliah dimana?"

Tentu saja Pelangi tidak punya jawaban yang pasti.

"Punya bakat apa kamu?"

Sampai ia sebesar ini pun, Ayah tidak mengerti apa bakat Pelangi. Bukan salah beliau, ini salahnya yang tidak pernah mau menunjukkan kelebihannya pada siapa pun.

Kecuali pada... petir dan guntur.

"Masa depan kamu nggak jelas."

Pelangi tahu itu. Bisakah tidak usah diperjelas lagi?

"Dan kamu nggak berniat membuatnya jelas."

Senja dan Lembayung memilih diam. Menyadari jika mereka tidak punya kuasa menghadapi Pelangi yang sepertinya, kekurangan anak itu hanya dalam pendidikan. Pelangi rajin membersihkan rumah, dia bukan anak pemalas- kecuali dalam hal belajar. Dia juga bisa memasak meski kemampuannya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Senja.

Pelangi juga anak penurut- kecuali perintah belajar dan larangan memakan permen kapas. Dia amat jarang membuat ulah dan terkesan feminim.

Orang tua di luar sana mungkin beranggapan jika Pelangi merupakan anak idaman yang begitu didamba.

"Om." Elen yang duduk di sebelah Rayden tiba-tiba bersuara. Terkesan sangat berani. "Rayden anaknya pinter, lho. Kenapa nggak minta tolong dia aja?"

Rayden si manusia tidak berdosa, melotot sempurna. "Erna! Jangan ngadi-ngadi Lo, ya. Gue sibuk!" Cowok itu berbisik setengah kesal.

"Erna?" Elen bertanya-tanya.

"Ervin Erna. Hm, namanya aja serasi banget, kan." Rayden masih bisik-bisik.

"Ya udah, deh."

Seperti dikomando. Semua mata langsung tertuju ke arah Pelangi setelah dia buka mulut.

"Ya udah apa?" Lembayung mewakili.

"Aku mau."

"Mau bimbingan di tempat temen Abang?"

"Nggak mau di sana!"

Lembayung celinggukan, menatap Alan dan Senja secara bergantian. Lalu kembali menatap adik iparnya. "Sama Rayden?"

Pelangi mengangguk, tanpa keraguan. Membuat Lembayung melotot tak percaya.

Astaga, anak ini benar-benar!

"Tenang aja." Elen berniat membujuk cowok di sampingnya. "Dapet duit, ada makanan. Bonusnya, bisa liat cewek cantik lebih lama. Bohong kalo Lo bilang Lala nggak cantik."

"Erna semprul!" Rayden mengumpat sepelan mungkin. "Nanti gue jadi jarang maen futsal, Dodol."

Rayden mengerutkan kening kala wajah Erna berubah menjadi serius. "Dia orangnya tertutup, siapa tau kalo sama Lo bisa terbuka, ya, kan?" ucapnya. "Udahlah terima aja. Tapi gue nggak terima ya dipanggil Erna!"

CERAUNOPHILE [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang