Rayden baru saja keluar kelas begitu jam sekolah usai, namun ia sudah di hadang duluan oleh Binar. Mau menghindar pun percuma, karena cewek itu sudah berdiri di hadapannya sekarang.
"Rayden," sapa Binar dengan nada ceria.
"Oy." Meskipun sebenarnya ogah, Rayden tetap menyahut.
"Kalo gue menang, inget ya. Kita harus jalan."
Cowok itu merasa risih saat mendengar kata 'kita' keluar dari mulut Binar. Tapi ya bagaimana, dia sudah terlanjur mengiyakan.
"Gue suka heran, deh. Kok Lo tiap hari makin ganteng, ya," celetuk Binar tiba-tiba, terkesan sangat blak-blakan.
Rayden menaikkan sebelah alisnya. "Oh ya? Kalo Lo makin hari makin jelek, sih."
Binar malah tertawa, menganggap ucapan Rayden sebatas candaan saja. Padahal, niatnya Rayden pengen serius. Susah memang kalau sudah dianggap humoris, yang serius selalu saja dianggap lelucon semata.
"Hari ini boleh nebeng nggak?" tanya Binar setelah tawanya mereda.
Rayden bisa saja bertingkah seperti biasa, menjadikan Pelangi sebagai alasannya. Namun, ceweknya itu malah sudah bilang kalau dia ingin bermain di rumah Elen. Jadi otomatis, dia pulang sendirian hari ini.
"Nggak bisa deh kayaknya."
Binar mengerucutkan bibirnya. "Nggak bisa terus..."
"Gue mau sekalian ke makam, takut ntar keburu hujan."
"Makam siapa?" Cewek itu mulai penasaran.
"Bokap."
"Ohh... sorry. Gue kira orang tua Lo masih lengkap."
Rayden menganggukkan kepalanya secara singkat sebagai respon.
"Kalo gitu, gue ikut ke makam boleh?"
Nekat juga ini cewek.
Cowok itu baru akan mencari alasan lain kala pandangannya bertubrukan dengan mata Pelangi, gadis itu memasang wajah datar. Berdiri cukup jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
Rayden buru-buru menepuk bahu Binar. Lalu berucap dengan tergesa. "Ntar kalo hujan Lo juga kehujanan. Gue duluan." Lanjut menghilang begitu saja.
***
Semenjak bertemu Rana, Pelangi jadi sering kali tiba-tiba muncul di rumah Rayden. Padahal, beliau juga jarang di rumah, yang berujung membuat gadis itu mendesah kecewa lantaran hanya mendapati Rayden saja.
Seperti pagi ini, dia sudah berjalan santai menuju rumah cowok itu. Pelangi sengaja turun di depan, soalnya kalau mau masuk rumah Rayden harus memasuki gang sempit lebih dulu. Dia sering ngeri kalau berpapasan dengan motor lain.
Pelangi bersenandung kecil, tampak begitu ceria saat tiba-tiba betis kakinya di hantam sebuah sepeda. "Astagfirullah!" Ia mengelus dada sambil merasakan betis kakinya yang sedikit nyut-nyutan.
Gadis itu mengangkat kepalanya sebelum berseru, "Anjir, ini anak dakjal?!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.