41. Tertegun

131 32 12
                                        

Setelah mengambil flashdisknya dan meminta Lembayung mengcopy video tersebut, Pelangi menceritakan semuanya. Tidak ada Ayah di sini, karena beliau sudah masuk ke dalam kamar.

“Jangan bilang siapa-siapa tapi yah,” peringat gadis itu setelah selesai bercerita. “Ini kan aib keluarganya dia.”

“Kok ada gitu ya orang kelakuannya kayak setan?” Senja bertanya-tanya. “Bunuh orang kayak bunuh ayam aja.” Lalu mengelus perutnya sambil bilang amit-amit. Takutnya nanti anaknya jadi ikutan kayak setan.

“Banyak.” Lembayung menyahut. “Lagian itu keluarganya gimana sih kok kayak pasrah-pasrah aja?”

“Nggak tau juga aku.” Pelangi beranjak berdiri dengan flashdisk di tangannya. Membuat kedua orang itu mengerutkan kening.

“Mau kemana?”

Gadis itu menoleh. “Ke Rayden.”

“Udah malem lho ini, nggak bisa besok aja?” tanya Kakaknya lagi.

“Rumahnya deket kok. Bentar doang.”

“Ya udah, biar Abang anter.”

“Nggak usah,” tolaknya. “Lagian nanti pulangnya juga pasti dianterin Rayden, kok.”

“Pake jaket lho, La.”

Kalau Kakaknya di rumah begini, Pelangi sering kali diperlakukan macam anak kecil. Ini bagian paling nggak enaknya jadi anak bungsu.

“Iya, ini juga mau ambil jaket.”

“Pake selimut jangan lupa.” Lembayung ikut mengingatkan.

“Ya masa selimutan segala, sih?!”

“Oh iya.” Ia baru sadar. “Pake jaket cukup berarti, ya.”

“Ya emang cukup, lah.” Setelah mengatakan itu, Pelangi buru-buru masuk ke dalam kamar. Lantas kembali ke ruang keluarga begitu selesai bersiap.

Gadis itu menyalami keduanya secara bergantian. Senja memperingatinya lagi, “Hati-hati.”

“Iya.”

“Kok kayak jaketnya cowok, La?”

“Punyanya Rayden.” Dia nyengir lebar.

“Nggak usah mampir-mampir.” Gantian Lembayung. “Pulangnya jangan malem-malem.”

“Iya, elah.”

“Mana sini pinjem hpnya.”

“Buat apaan?”

“Ngirimin nomor peneror yang minta uang waktu itu.”

“Hah?”

“Nomornya Rayden.” Lembayung tentu masih ingat betul kelakuan Rayden yang berhasil membuat satu rumah gempar— hanya karena pesan singkat yang dikirimkan anak itu. Yang katanya, kalau Pelangi tidak mengirimkan uang lima ratus juta, nyawanya akan segera melayang.

“Ohh.” Pelangi manggut-manggut. “Aku aja.” Lantas mengotak-atik ponselnya. “Udah. Dadah…”

Detik berikutnya, Pelangi sudah ngibrit keluar rumah.

Lembayung mendudukkan diri di sebelah Senja, memandang wanita itu dari jarak dekat. “Kamu nggak pengen apa-apa?”

“Enggak.”

“Nggak ngidam apa gitu?” Ia mengelus lembut perut istrinya.

“Enggak dibilangin,” sahutnya sambil menundukkan kepala. “Dia nggak rewel.”

Agaknya Senja merasa beruntung, karena hamil pertama tidak membuatnya lemas, dia juga santai saja melakukan pekerjaan rumah tanpa ada hambatan.

“Ya tapi jangan mentang-mentang nggak rewel kamunya jadi ngangkatin yang berat-berat mulu.” Lembayung sengaja membawa Senja menginap di sini entah sampai kapan, takut kalau-kalau istrinya sampai kenapa-kenapa.

CERAUNOPHILE [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang