23. Lakon luka

138 29 5
                                        

Pelangi selalu suka aroma setelah hujan, meskipun hujan sering kali menjadi tanda kemunculan rasa takutnya, namun tetap saja. Itu membuatnya merasa damai.

Tapi sepertinya, dia lebih suka hujan kembali turun sekarang. Mengisi suara yang akan mengantikan hening yang tercipta.

Rayden dan Pelangi sama-sama bungkam. Cowok yang biasanya banyak omong itu kini hanya diam dan fokus pada jalanan. Bahkan, suara musik pun tak terdengar. Dan jujur saja, Pelangi tidak menyukainya.

Ini terlalu canggung buatnya.

“Kenapa?”

Gadis itu menghembuskan nafas lega. Karena rasanya, tidak mungkin juga dia yang harus mulai bicara lebih dulu.

“Nggak pa-pa,” sahutnya berusaha santai. Dia melirik ke arah Rayden. “Lo… nggak suka musik?”

Rayden menggeleng, lalu menoleh ke samping. “Gue lebih suka apa yang Lo takutin.”

Pelangi ingat, terakhir kali ia bertindak nekat dan merebut sebelah earphone Rayden, dia dikejutkan dengan suara guntur yang luar bisa menggelegar.

Gadis itu jadi curiga. Mungkin saja playlist Rayden tidak jauh-jauh dari petir dan guntur. Monoton sekali.

“Lo nggak pernah dengerin musik?” tanyanya lagi.

“Pernah, lah.” Pandangan Rayden sepenuhnya terpusat ke depan.

“Dimana?”

“Mall, kafe… nggak sengaja denger. Kalo yang sengaja paling instrumental.”

“Yang nggak ada liriknya?”

“Iye.” Dia menoleh sebentar. “Itu aja jarang.”

“Tapi, kan, musik nggak ada liriknya itu aneh. Nggak asyik tahu.”

“Kayak backsound ftv, kan?”

“Hah?” Pelangi mengerjap bingung. Rayden sering kali berucap tidak nyambung jika diajak bicara. Tapi anehnya, Pelangi selalu merasa nyaman membicarakan hal tidak bermutu sekalipun dengan cowok itu.

“Itu, musik tanpa lirik… bagaikan ambulan tanpa uwiw.” Rayden nyengir, lalu melanjutkan kalimatnya. “Nggak aneh. Tergantung selera musik orang-orang aja.”

“Hmm, selain nonton princess ternyata Lo juga nonton ftv.” Pelangi tersenyum meledek. Lalu tertawa.

“Sialan!” Rayden mengumpat tak terima. Lantas tangannya terjulur guna menggetok kepala gadis itu. Sekali-kali, kepala Pelangi perlu diberi guncangan ringan agar otaknya kembali ke tempat semula.

Pelangi memberengut sembari mengelus kepalanya sendiri, yang lantas digantikan tangan cowok itu. Gadis itu keenakan, kepalanya kini telah menyender nyaman. Dia jadi mengantuk, mungkin juga karena efek obat yang dijejalkan Rayden sebelumnya.

Sementara pandangan Rayden fokus ke depan, menyetir dengan satu tangan. Detik berikutnya, dia menoleh heran. “Ngapa, Lo?”

“Ngantuk,” sahut gadis itu lirih.

“Ya molor sana,” ucap Rayden dengan santai. “Ntar gue tinggalin.”

Pelangi menyahut cepat. “Bangunin! Apaan tinggalin.”

“Hmm.”

Setelahnya, Pelangi memejamkan mata. Membuat hening kembali tercipta. Lantas pudar begitu gadis itu buka suara. “Rayden…”

Cowok itu menoleh. “Apa?” Rayden tidak tahu betul Pelangi sudah tidur atau mungkin mengigau. Tapi yang jelas, matanya terpejam.

“Gue pengin ikut kelas musik.”

CERAUNOPHILE [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang