31. Renjana

151 28 19
                                        

Pelangi tercengang. Tidak tahu alasan di balik wajah wanita paruh baya itu— yang jelas-jelas bukan bawaan lahir. Juga tidak menyangka Rayden akan menilai Ibunya sendiri melalui fisik saja.

Wajahnya mungkin sudah tidak cantik lagi, tapi hatinya belum tentu begitu juga, kan?

Gadis itu tanpa sadar memundurkan langkahnya secara perlahan, terus mundur sampai menabrak kantung kresek hingga ia terjerembab di lantai.

Rayden melotot begitu menyadari isi dalam kantung kresek tersebut. Ia mendekat dengan tergesa, menarik Pelangi agar kembali berdiri. Lalu buru-buru mengecek isinya, cowok itu mendadak lemas begitu tahu telur ayam Mama hancur dengan cara mengenaskan.

"... nggak sengaja..." gumam Pelangi setelah itu. Dia menatap kedua tangannya yang sudah berlumur kuning telur. Untungnya Pelangi bisa menahan tubuhnya dengan kedua tangan. Kalau tidak, mungkin semua telur itu sudah hancur tertindihi badannya. "Maaf...."

Sambil menyelamatkan telur ayam Mama yang sebagian lagi masih bisa diselamatkan, Rayden bergumam dalam hati, Mama gue cakep, bismillah satu juta.

"Eh? Salah, anying," ucap cowok itu kemudian.

"Apanya?" Pelangi menyahut lirih.

Rayden menggeleng sebagai jawaban.

Bismillah nggak ngomel, bismillah nggak ngomel, bismillah nggak ngomel. Rayden menyuarakan kalimat ini dalam hati berkali-kali.

Ia tahu betul telur sebanyak ini pasti akan digunakan untuk membuat kue pesanan orang. Dan kalau Rayden ketahuan mengambil satu untuk memasak mie instan saja, Mama sudah pasti ngomel.

Rana— Mama Rayden, bergerak cepat menghampiri Pelangi, merangkul pundaknya sambil berkata, "Nggak pa-pa, nggak pa-apa. Ayo cuci tangan dulu."

Akhirnya Rayden bisa bernafas lega.

Pelangi dituntun ke belakang, saat Rana menghentikan langkahnya, dia juga ikut berhenti.

"Ray!"

Rayden tidak jadi lega. Ia menoleh ke belakang dengan wajah datar.

"Sana beli telur di warung." Cowok itu sudah siap berdiri. "Dibilangin kalau sepatu udah nggak dipakai itu taruh di rak!" Namun tidak jadi. Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar.

"Itu juga, kalau hujan cangcutmu itu dijemurin!"

"Kok dijemurin?" Pelangi yang menyahut, heran.

"Oya! Jadi salah, kan." Mama malah menyalahkan Rayden. "Diangkatin! Kalau nggak kering juga nggak mau cangcutan, kan, kamu. Jorok!" Selepas itu, Rana kembali melanjutkan langkahnya, masih dengan merangkul Pelangi.

Mama memang masih bisa bersikap seperti dulu, masih sering ngomel dan lain sebagainya. Berbeda dengan Rayden. Semenjak Papa pergi, cowok itu jadi menghindari interaksi dengan Mamanya, menyahut seperlunya, dan menjadi pribadi yang amat tertutup.

Pelangi sudah selesai mencuci tangannya, juga wajahnya— yang ternyata ikut terkena cipratan telur.

"Rambut kamu kok basah?"

Pelangi tersenyum canggung. "Tadi lengket, Tante. Kena permen kapas."

"Sini-sini." Rana kembali menuntut Pelangi duduk di sofa. Mengambil handuk dari tangan gadis itu dan mulai mengeringkan rambutnya, membuat Pelangi sempat membeku. Ia pernah berada di posisi ini, terakhir kali dua belas tahun lalu. Dan catat, itu sudah lama sekali.

"Tante."

"Oy!"

Pelangi memainkan kukunya. "Mau peluk, boleh?"

CERAUNOPHILE [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang