Pelangi tidak tahu harus melakukan apa, selain tangannya yang terjulur dan meraih pintu dengan tergesa. Detak jantungnya tentu sudah menggila, bukan karena bahagia.
Dia takut jika sewaktu-waktu, Rayden mungkin bisa membunuhnya. Seperti bagaimana cowok itu menghabisi nyawa Papanya sendiri.
Ini gila!
“Mau kemana?”
Pelangi makin gelagapan kala cowok itu menahan lengannya. Nada suara Rayden terdengar seperti penculik di sebuah film yang sering Pelangi tonton saat masih kecil.
Gadis itu sudah siap mengumpat sedemikian rupa, namun bibirnya justru bergetar dan tidak mengatakan apa-apa. Dia berusaha memberontak, sebelum Rayden kembali buka suara.
“Becanda doang kali.”
“Ha-hah?”
“Gue ganteng.”
“Hah?” Pelangi semakin bingung mendengar ucapan tidak nyambung cowok itu.
“Jadi nggak mungkin, lah.”
Memangnya, ada aturan pembunuh itu jelek?
“Tampang gue mungkin keliatan nggak waras, tapi gue jelas masih waras,” lanjut cowok itu.
Setelahnya, Rayden mengerang kala Pelangi meninju lengannya tanpa aba-aba. Pelangi kira, Rayden akan mengomel seperti biasa, namun cowok itu justru tertawa.
“GILA!!” Pelangi memekik, lanjut memegangi dadanya sendiri yang bisa copot sewaktu-waktu. “GUE DEG-DEGAN!”
Rayden tertawa lagi. “Mana coba.” Tangannya terjulur, yang lantas segera ditepis gadis itu.
“Gue bisa jantungan!”
“Gelantungan?”
Pelangi mengeram, lalu mengigit tanghulunya yang masih tersisa dengan begitu beringas.
“Takut banget, ya?” tanya Rayden sembari memandang gadis itu.
“Iya, lah.” Pelangi enggan menoleh.
“Gue udah bilang ini berkali-kali, tapi kayaknya emang kudu diulang lagi.” Ucapan Rayden kali ini berhasil membuat gadis itu menoleh dengan dahi berkerut. “Jangan pernah takut sama gue....”
Ada yang berbeda dari ucapan Rayden, Pelangi tidak tahu betul bagaimana benarnya. Namun, tatapannya terasa lebih teduh dan suara terdengar lebih halus dari biasanya.
“Gue nggak takut.” Pelangi berujar angkuh.
“Halah!”
“Kenapa gue harus nggak takut sama, Lo? Emang Lo bisa dipercaya gitu?”
Rayden diam sejenak, lalu menyahut, “Soalnya gue kayak reksona.”
Pelangi sontak bergidik. “Bersemayam di ketek maksudnya?”
“Oneng, Lo!”
“Terus?” tanya Pelangi lagi dengan satu alis terangkat.
“Setia setiap saat.”
Pelangi memperagakan seolah-oleh tengah muntah. “Najis banget!”
Rayden terkekeh. Pelangi bahkan sampai terpaku. Buatnya, cowok berlesung saja kalah pesona dengan senyum Rayden yang memunculkan gigi kelincinya.
“Yang harusnya Lo takutin tuh air tenang kali. Bukan yang begijikan.”
Pelangi masih menatap cowok itu tanpa berkedip.
Rayden mulanya tidak menyadarinya, namun lama-lama dahinya berkerut bingung. “Kenapa Lo liatin gue kayak cewek mesum gitu anjir.”
“Gigi Lo lucu banget, deh! Gue pengin nyubit, kan, jadinya.”
KAMU SEDANG MEMBACA
CERAUNOPHILE [Completed]
Подростковая литератураSama halnya dengan sebuah lilin di tengah gelapnya malam, seperti itulah hubungan benang raja dengan sang guntur. ©copyright Listikay Oktober 2020.
![CERAUNOPHILE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/245495132-64-k317823.jpg)