Rayden tidak main-main dengan ucapannya, terbukti saat motornya berhenti di depan rumah Pelangi pukul tujuh- tujuh lebih tiga puluh menit lebih tepatnya. Dan berakhir kembali membelah jalanan setelah meminta izin membawa anak gadis orang.
Pelangi sama sekali tidak merasa canggung. Entah karena Rayden tipe orang yang tidak awkward dan suka ceplas-ceplos, atau karena alasan lain- yang pastinya tidak akan masuk akal.
Gadis itu memajukan tubuhnya, lalu berteriak, "Ini mau kemana?"
Rayden memiringkan kepalanya ke samping guna memudahkan berkomunikasi di atas motor. "Nanti juga Lo tahu. Nggak usah banyak tanya deh, bawel."
Pelangi mendengus.
Aroma khas bercampur parfum cowok itu terhempas angin, yang berakhir menghantam indra penciuman Pelangi.
Memabukkan, mungkin itu satu kata gila yang tepat untuk sekarang.
Memikirkan kemana cowok itu akan membawanya, Pelangi jadi menerka-nerka apa yang ingin Rayden sampaikan padanya.
Mungkin tentang kronologi Ayahnya yang bunuh diri- meskipun Pelangi tahu itu sebuah privasi, atau tentang bagaimana dia dengan mudah bisa menyukai suara guntur dan cahaya kilat, mungkin juga tentang segerombolan orang misterius itu.
Atau bagaimana dia bisa terlahir dengan sangat tampan.
Eh, apa-apaan!
"Shit!"
Pelangi kebingungan saat mendengar umpatan cowok itu yang terkesan sangat tiba-tiba. "Kenapa?"
"Pegangan, gue mau ngebut."
"Hah? Ada apa emangnya?"
"Pegangan!"
"O-oke." Pelangi menurut, meski tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ragu-ragu, ia menaruh kedua tangannya. Mencekram jaket cowok itu. Oleh Rayden, tangannya justru ditarik agar melingkar di pinggangnya. Pelangi sudah akan protes, tapi gagal karena Rayden langsung memacu kecepatan motornya penuh kegilaan.
Bahkan kedua mata Pelangi sampai merem-melek karena terhantam angin kencang.
"Gue nggak mau mati!" Ia berteriak. Seperti makan angin kala mulutnya terbuka.
"Kita dikejar."
Pelangi membelalak, lantas menolehkan ke belakang dengan perlahan. Nyalinya menciut saat melihat mobil hitam yang sama-sama memacu kendaraan pada kecepatan tidak normal.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kedua lengannya yang ada di atas perut Rayden semakin ia perkencang. Membuat cowok itu sedikit meringis tanpa disadari Pelangi.
"Itu siapa?"
Pelangi harus memastikan, atau ia akan mati dengan rasa penasaran yang belum terjawabkan.