40. Kubangan hitam

147 30 11
                                        

Ada masa dimana manusia merasa lelah, dan mungkin memilih menyerah.
Jelas itu keputusan yang salah.
Kalau memang lelah istirahatlah, jangan malah berhenti melangkah.
Cukup percaya saja, bahwa yang semula redup, bisa semudah itu kembali hidup.

****

Keningnya berkerut, mulutnya ikut menyahut. "Lho, Rayden?"

Pelangi yang tadinya sudah melangkah menjauh, kini langsung putar arah lagi. Seakan lupa dengan tangannya yang mungkin akan terkena virus borok atau semacamnya.

Rayden mengerutkan keningnya, memandang Sasa dalam-dalam. Lantas manggut-manggut. "Lo yang waktu itu, kan?"

"Iya," sahut cewek itu tersenyum tipis. Gantian menatap Pelangi yang wajahnya ketara sekali menyimpan banyak tanya. "Halo," lanjutnya lagi. Yang tadinya kelihatan malu-malu, sekarang sudah berani menyapa lebih dulu.

"Kok bisa kenal Rayden?" Sama dengan Pelangi, Daffin juga dibuat heran. Ia beralih memandang Rayden. "Kenal dimana Lo, Nyet?"

"Di hatiku."

Daffin berniat setidaknya memberi satu tampolan saja, namun Pelangi sudah lebih dulu melakukannya. Menggaplok lengan cowok itu cukup kencang.

"Wealah, main gebuk aja nih anak," keluh cowok itu.

"Yang bener jawabnya!"

"Dia yang nolongin Lo."

Pelangi menaikkan sebelah aslinya. "Nolongin gue? Nolongin apa?"

"Waktu Lo mabok," sahut Rayden. "Kalo nggak ditolongin ama dia, kelar deh hidup Lo."

"Bocah plentas-plentus gini berani mabok juga?" Daffin menimpali. Memandang Pelangi dengan tatapan seakan kagum.

"Beranilah, aku sudah besar!"

"Halah." Rayden mencibir. "Ini anak dicekokin ama bocah-bocah berandalan. Orang habis kena alkohol juga langsung tepar."

Tiba-tiba, gadis itu mendekat ke arah Sasa, lalu menepuk-nepuk bahunya sambil tersenyum. "Makasih, ya."

"Iya." Sasa balik tersenyum. "Sama-sama."

"Ya ampun, suara Lo alus banget." Ia memandang cewek di hadapannya yang kelihatan begitu anggun, suaranya sangat lembut. Tidak heran begitu mengingat apa yang pernah Rayden ceritakan perihal Daffin sampai membuang-buang waktunya menunggu kepulangan cewek ini macam orang tolol. "Cantik juga."

"Iya, dong." Daffin menyambar cepat. "Emang Lo, nama dong Pelangi tapi mukanya warna abu."

"Idih, songong." Pelangi mencibir.

Daffin cengengesan, disusul Rayden yang memberi instruksi agar mereka segera masuk ke dalam dan melanjutkan obrolannya di sana saja.

Pelangi berjalan beriringan dengan Sasa, ia sampai lupa menanyakan nama cewek ini. "Oya, nama Lo siapa?"

"Saffirny, tapi biasa dipanggil Sasa."

Pelangi manggut-mangut. "Eh, tapi kok... Lo bisa tau nama Rayden?"

"Soalnya malem itu Lo ditanyain nggak nyahut, malah nyariin Rayden mulu. Terus waktu Rayden udah dateng, gue jadi tau Rayden itu yang mana."

"Tapi gue nggak malu-maluin kan, ya?"

Kening Sasa tampak berkerut. "Malu-maluin gimana?"

"Nggak aneh-aneh gitu... pas ada Rayden?" Pelangi perlu mamastikan. Karena Elen yang saat itu ada di sana sama sekali tidak bisa memberinya informasi yang benar kala Pelangi menanyakannya.

CERAUNOPHILE [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang