Jika Rayden tidak menyukai hujan lantaran akan membuatnya kerepotan, berbeda dengan Cakra yang akan dengan mudah terkena flu saat musim hujan. Yang membuat Daffin langsung bergerak cepat guna menjaga jarak.
Cowok itu tidak mau tertular penyakit Cakra yang sudah mendarah daging.
“Minum obat kek, Lo. Geli gue liatnya,” ucap Zoe yang membuat Rayden dan Daffin mengangguk setuju.
Saat dalam mode flu begini, senjata Cakra hanyalah tissue dan minyak kayu putih. Tidak ada yang lainnya. Cowok itu sering sekali menunjukkan secara terang-terangan saat mengeluarkan ingusnya yang langsung ditampung dalam tissue. Menjijikan.
“Kayak Lo nggak pernah flu aja!”
“Masalah ini kita lagi makan, Bego!” sahut Daffin. “Ngeri gue kalo ingus Lo ngemplung ke mangkuk gue.”
“Jangan-jangan flu burung?” Rayden menerka-nerka.
“Lambemu!” teriak Cakra tidak terima. “Gue nggak suka minum obat.”
“Dulu Lo minum, kan?!” Zoe ingat betul bagaimana perbedaan seorang Cakra antara dulu dan sekarang. Tentu jauh lebih baik yang dulu.
“Itu dulu Retta yang maksa.” Cakra tiba-tiba saja murung.
Claretta Conchetta, mantannya yang giginya maju ke depan itu masih sering membuatnya nelangsa. Meskipun gadis itu tidak secantik mantan-mantannya yang lain, Retta tetaplah gadis yang mengerti dirinya dengan baik.
Yang amat peduli terhadapnya melebihi Emak cowok itu sekalipun.
Saat memutuskan gadis itu, Cakra yakin saat itu dia sedang kesurupan setan kurang ajar!
“Nyesel kan Lo, mampus kena azab!” Daffin menyumpahi.
“Cantik doang nggak cukup kali. Lo sih main mutusin aja.” Zoe ikut-ikutan.
“Ajak balikan, lah!” ucap Rayden kelewatan enteng.
“Lo pikir segampang itu??!”
“Ya makanya Lo minum obat dulu sana. Biar bisa mikir gimana cara balikannya.”
“Obat apaan? Males banget!”
“Obat warungan aja dulu.”
“Obat apa, sih?”
“Ultramen,” jawab Rayden sembari melahap baksonya.
“ULTRAFLU, BLOK!” seru ketiganya secara serempak.
Rayden terbatuk-batuk lantaran terkejut. Cakra si kurang ajar sampai mengebrak meja sembari menyedot ingusnya yang nyaris keluar.
Rayden segera meraih minumnya dan menegaknya hingga tandas. “Elah, gitu doang ngegas.”
“Pulang sekolah futsal, kan?” tanya Daffin, yang sepertinya sudah cukup jengah meladeni Rayden.
“Enggak bisa gue.”
Ketiganya langsung menoleh ke arah Rayden secara bersamaan, penuh tanya.
“Sejak kapan nolak diajakin futsal, Lo?” Zoe terheran-heran. Jika lari ngebirit saat mendengar guntur, itu sudah sangat biasa. Namun menolak begitu saja, itu yang tidak biasa.
Rayden menoleh ke samping kanan, menarik lengan Pelangi yang kebetulan lewat. Gadis itu terkesiap dengan wajah penuh tanya. “Mau ngajarin nih anak ke jalan yang benar.”
“Hah?” Pelangi yang tidak mengerti apa-apa nampak seperti orang linglung.
“Lo kata dia sesat!” Daffin bersungut-sungut.
KAMU SEDANG MEMBACA
CERAUNOPHILE [Completed]
Teen FictionSama halnya dengan sebuah lilin di tengah gelapnya malam, seperti itulah hubungan benang raja dengan sang guntur. ©copyright Listikay Oktober 2020.
![CERAUNOPHILE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/245495132-64-k317823.jpg)