48. Seutas karsa

173 30 2
                                        

Kala baru saja membuka matanya, Pelangi langsung tersentak begitu seseorang memeluknya terlampau erat.

Ia mengerjap berkali-kali, masih terlihat kebingungan meskipun orang tadi sudah melepaskan pelukannya dan menatapnya dalam-dalam. Memperlihatkan tatapannya yang serat akan kerinduan.

“Ibu?!” Matanya terbelalak saat kalimat barusan keluar dari mulutnya.

Wanita itu tersenyum hangat sembari mengelus sebelah pipi Pelangi. Beliau berujar lembut, “Lala udah gede ya sekarang… cantiknya anak Ibu.”

Pelangi menghamburkan diri ke pelukan Ibunya bersamaan dengan cairan bening yang menetes secara perlahan dari kelopak matanya. Merengkuh beliau sekuat mungkin, seakan tidak rela kalau sewaktu-waktu sosoknya kembali menghilang.

Ia masih tidak mau melepaskan cengkraman tangannya saat Ibu membawanya duduk di sebuah kursi dekat mereka.

“Udah dong nangisnya.” Sambil terkekeh, Ibu menghapus air mata anak gadisnya. “Mana coba Ibu liat giginya Lala.”

Dengan mata dan hidung memerah, serta wajah yang dibanjiri air mata, Pelangi mangap. Membuka mulutnya lebar-lebar. Seperti yang sering ia lakukan dulu seusai mendengar perintah Ibu.

Beliau mengamati bagian dalam mulut Pelangi sebelum berucap, “Giginya masih bagus. Tapi jangan keseringan makan permen kapas, ya.”

Pelangi mengangguk patuh.

“Sekarang masih bagus, tapi nanti kalau udah tua jadi gampang ompong.”

Ia mengangguk lagi, seperti anak kecil. Lalu, Ibu memeluknya dari samping. “Ibu udah nggak bisa gendong Lala lagi ya sekarang. Badannya aja sekarang sama kayak Ibu.”

“Iyaaaa,” sahut Pelangi dengan senyum lebar, mulai membalas pelukan beliau.

“Cantik banget anak gadis Ibu.” Tangan halusnya mengelus lembut kepala Pelangi. “Tapi cantiknya jangan cuma di luar aja, ya? Hatinya juga harus cantik, kayak yang pernah Ibu bilang dulu.”

“Oke!”

Setelah itu, mereka tertawa bersama. Tampak sangat bahagia setelah melepas rindu yang disimpan keduanya.

“Ibu suka anak itu,” ujar beliau tiba-tiba, yang sontak membuat Pelangi mengernyit bingung.

“Anak? Anak siapa?”

“Cowok itu. Yang sama kamu.”

“Ohh… Rayden?”

“Iya,” jawabnya dengan senyuman.

“Lala juga suka! Rayden ganteng hehe.”

Pelangi yang mulanya cengar-cengir, kini kelihatan terbengong-bengong ketika tak sengaja melihat samping tempat keduanya duduk, lalu ia mengedarkan pandangannya sebelum berdecak kagum.

“Dia nuntun kamu pelan-pelan. Biar bisa lebih baik dari sekarang.”

Ia tidak terlalu mendengar kalimat Ibu saking takjubnya. Bahkan dia tidak bisa mendeskripsikan tempat ini. Namun yang jelas, tempatnya berpijak sekarang benar-benar kelewatan luar biasa.

Pelangi belum pernah membayangkan ada tempat sebagus ini.

“Cantik, ya?”

“Iya!” Gadis itu tersenyum lebar. “Ini dimana, Bu?”

Begitu mendengar pertanyaan Pelangi, raut wajah Ibu berubah drastis. Membuatnya kebingungan, apakah pertanyaannya salah?

“Lala mau ikut Ibu atau Ayah?”

“Hng?” Tentu saja dia semakin bingung.

“Ikut Ibu aja, ya?”

“Aku mau pulang…” jawabnya lirih. “Tapi sama Ibu… kita pulang sama-sama.”

CERAUNOPHILE [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang