Tentu bisa dihitung dengan jari kapan Pelangi mau menerima ajakan Elen untuk sekedar nongkrong cantik di kafe. Tidak heran, jika sekarang Elen masih saja bertanya-tanya. Ada apa dengan temannya itu yang tumben-tumbenan mau diajak gaul sedikit?
Pelangi memang sering menolak ajakannya. Namun kurang ajarnya, Elen sering kali memergoki Pelangi tengah keluyuran di pinggir jalan dengan permen kapas di tangannya.
Bravo!
Elen menelan makanannya lebih dulu sebelum akhirnya memutuskan untuk bertanya. "Tumben Lo langsung mau pas gue ajakin?"
"Gue juga nggak ngapa-ngapain di rumah," jawab Pelangi setelah menyeruput banana blueberry smoothienya— karena dia tidak suka kopi.
"Hmm, alasan klasik. Karena gue yang bayar, kan?"
"Iya, dong! Haram tau nolak rezeki," Pelangi nyengir lebar.
"Yeu, dasar Lalapan!"
Pelangi mendadak memasang wajah serius. "Tolong berhenti manggil gue pake nama itu."
"Terserah gue, lah."
"Itu namanya pencemaran nama baik tau. Seakan-akan gue kayak daun kemangi sama sambal terasi."
Elen menjentikkan jari. "Dan itu salah satu makanan kesukaan gue! Enak bener, deh dicocol pake paha ayam."
"Alah, nggak penting banget!" Pelangi memajukan kepalanya, kembali memasang wajah serius. "El, gue mau ngomong."
"Lah terus yang tadi itu ngapain? Gumoh, Lo?" cibir gadis dengan kaki berbentuk huruf O tersebut— yang katanya, bedongannya sewaktu bayi tidak kencang dan cenderung kendor.
"Gue serius!"
"Oke-oke, apaan?"
Pelangi diam sejenak, lalu berucap dengan satu tarikan nafas dan tempo cepat. "Gue suka Rayden."
"Lo pikir gue buta?" Elen menyahut sinis.
"Gue ngajak ngomong kuping, Lo. Bukan mata, Lo!"
Gadis di hadapan Pelangi itu menghembuskan nafasnya, kelewatan jengah. "Lo pikir gue buta ampe nggak bisa liat gimana anehnya Lo akhir-akhir ini?"
"Aneh gimana?"
"Nggak usah diceritain karena Lo bakal jijik sendiri kalo denger!"
Pelangi masa bodoh, lanjut menanyakan hal lain. "Menurut Lo, Rayden gimana?"
"Gimana apanya?"
"Nggak enak aja kalo selama ini gue cuma dianggap teman."
"Menyedihkan," responnya, lalu Elen kelihatan berpikir. "Gimana cara dia natap Lo, itu udah kayak cara gue natap— ,"
"Ervin, kan?" Pelangi memotong cepat. "Ya ampun, jadi dia kayak nganggep gue ceweknya gitu, ya." Dia kelewatan percaya diri.
"Bukan gitu!" pekik Elen. "Cara Rayden natap Lo itu udah kayak cara gue natap lalapan berserta paha ayam."
Terlihat jelas bagaimana kening Pelangi berkerut setelahnya. "Maksudnya?"
"Sedemen apapun gue sama lalapan, gue—,"
"Cara Lo ngomong seakan-akan lesbian yang naksir sama gue aja."
"Lalapan beneran, oke? It's not you!"
Pelangi manggut-manggut. "Ya udah lanjut."
"Sedemen apapun gue sama lalapan dan paha ayam, gue tetep pilih Ervin, lah," lanjut Elen, kalimatnya sudah diralat agar Pelangi tidak salah paham lagi. "Mungkin Rayden juga gitu, sedemen apapun dia ama Lo, kalo dikasih pilihan, dia nggak akan milih Lo, Lalapan. Mungkin aja cewek lain."
KAMU SEDANG MEMBACA
CERAUNOPHILE [Completed]
Teen FictionSama halnya dengan sebuah lilin di tengah gelapnya malam, seperti itulah hubungan benang raja dengan sang guntur. ©copyright Listikay Oktober 2020.
![CERAUNOPHILE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/245495132-64-k317823.jpg)