Rayden dan Pelangi baru akan masuk ke dalam tenda pedagang sate, tepat ketika sesuatu jatuh dari saku cowok itu. Membuat Pelangi ikut menoleh dengan tatapan yang tampak berbeda.
"Duh." Dia menunduk, mengambilnya dan kembali memasukkannya lagi dalam saku celana.
"Rokok teros," ujar Pelangi dengan nada julid yang ketara.
Rayden meliriknya sekilas. "Apa sih." Lalu kembali melanjutkan langkahnya. Disusul Pelangi yang segera mengekori cowok itu.
"Bang, rokok dua porsi ya," pesannya begitu santai.
"Hah?" Jelas saja si Abang Sate kebingungan.
"ROKOK TEROSS!" Pelangi mengulang kalimatnya tadi, kali ini bahkan lebih menggebu-gebu. Sampai membuat beberapa pelanggan menoleh ke arah mereka.
Rayden celingukan menatap sekitar, meringis sebelum kembali memusatkan pandangannya pada gadis di sebelahnya ini. "Lo kenapa sih, anjir."
"Sate, bego!" Pelangi beralih menatap Abang Sate. "Dua porsi ya, Bang."
"Sip!"
Gadis itu berjalan begitu saja mencari tempat duduk, Rayden yang tadinya hanya diam saja segera mengikuti. Cowok itu mengambil duduk di hadapan Pelangi.
Saat sudah sama-sama duduk, Pelangi memusatkan tatapannya pada Rayden. "Den," panggilnya kemudian.
"Apaan?"
Pelangi melipat kedua tangannya di atas meja, matanya tampak memicing. "Lo dari kapan ngerokok?"
"SD," jawab cowok itu amat santai.
"Wah-wah." Pelangi berdecak kagum sambil geleng-geleng kepala. "Yakin deh, bentar lagi pasti koit."
"Cangkemmu!" Dia ngegas. "Becanda doang anjing. Dari... dari Papa gue nggak ada sih kayaknya."
Gadis itu menganggukan kepalanya beberapa kali. Setelahnya, anteng kembali. Pelangi tiba-tiba saja diam tanpa mengoceh lagi.
"Tung." Oleh sebab itu, Rayden berganti memanggilnya.
"Apa?"
"Lo pernah pacaran nggak?"
Pelangi diam saja selama beberapa saat— mungkin bingung kenapa tiba-tiba saja Rayden menanyakan hal itu— sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Gue sama cowok aja takut, gimana mau pacaran coba?"
"Gue juga cowok." Dan Pelangi juga tau itu. "Lo masih takut sama gue?"
Gadis itu menggeleng lagi. "Enggak, lah. Kan, Lo sendiri yang bilang nggak usah takut sama air yang begijikan."
"Terus, masa nggak ada yang deketin Lo?" Sampai sekarang, Rayden masih merasa penasaran siapa sebenarnya Danesrawa.
Pembicaraan mereka terpotong begitu saja ketika pesanan datang. Rayden yang memang tidak bisa menistakan makanan, segera melahap tusukan sate di hadapannya dengan lahap. "Bokap Lo..." cowok itu berucap sambil mengunyah. Seolah lupa jika pertanyaannya belum mendapat jawaban.
"Kenapa?"
"Bokap Lo kalo ama nyokap gimana dulu?"
"Gimana apanya?" Pelangi malah balik bertanya.
"Dia nggak suka ama Lo, kan? Terus ama nyokap Lo? Nggak suka juga?"
"Ohh." Gadis itu manggut-manggut. "Enggak, Ayah kalo sama Ibu biasa aja. Sayang kok." Pelangi mengambil satu gigitan, lalu menelannya. "Hidup Lo keliatan lebih enak tau, Den."
"Enak apanya!"
"Lo anak tunggal—,"
"Tanggung jawabnya gede," potong cowok itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
CERAUNOPHILE [Completed]
Novela JuvenilSama halnya dengan sebuah lilin di tengah gelapnya malam, seperti itulah hubungan benang raja dengan sang guntur. ©copyright Listikay Oktober 2020.
![CERAUNOPHILE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/245495132-64-k317823.jpg)