Manusia punya banyak pembuluh darah di pergelangan tangan. Dan salah satu pembuluh darah di pergelangan tangan Pelangi terpotong, menyebabkan banyak darah keluar dari sana.
Mungkin akan berbeda jika Alan yang kala itu menolong Pelangi segera mengatasi pendarahan yang terjadi. Menekan daerah pergelangan tangan yang mengeluarkan darah menggunakan kain sambil membawanya ke rumah sakit.
Namun, orang yang dikuasai kepanikan sering kali kehilangan akal. Membuat beliau buru-buru membopong anak gadisnya tanpa berpikir sampai ke sana. Untungnya ketika di perjalanan menuju rumah sakit, Alan baru teringat hal tersebut dan segera membungkus tangan Pelangi dengan kain yang ada di mobil.
Hal itulah yang membuat Pelangi cukup banyak kehilangan darah dan membuatnya tidak sadarkan diri selama beberapa jam.
“Tidur,” suruh Alan sembari mengusap-usap puncak kepala gadis itu. Alat pengukur waktu masih menunjukkan pukul tiga pagi. “Rambut kamu halus, ya.”
Lalu berganti mengecup kepalanya. “Wangi juga.”
“Rambut Ibu juga gitu nggak, Yah?”
Mulanya Ayah hanya diam sebelum menyahut lirih. “… iya.”
Gadis itu manggut-manggut. “Ayah.”
“Kenapa?”
“Besok sisirin rambut aku, ya.”
“Oke.”
“Dulu aku sering diledekin temen-temen karena nggak pernah dijemput Ayahnya. Katanya cuma aku yang nggak punya Ayah, jadi nggak boleh ikut main sama mereka.” Ada senyum getir setelahnya.
Pelangi ingat betul bagaimana ia berusaha keras menahan air matanya saat itu. Lalu, Zoe akan datang tiba-tiba, membuatnya tertawa sekaligus mengajaknya bermain bersama.
Ternyata benar, orang paling berbahaya justru orang terdekat kita sendiri.
“Udah, nggak usah ngomongin itu lagi.”
Bukan berarti, Alan malas kesalahannya terus diungkit. Beliau hanya tidak mau melihat raut sedih anaknya, entah untuk yang keberapa kalinya dan dialah penyebab utamanya.
Detik berikutnya terdengar suara pintu berdecit, sontak membuat keduanya menoleh secara bersamaan.
Senja masuk ke dalam. Pelangi refleks membuang muka.
“Lala.”
Pelangi mencengkeram lengan Alan kuat-kuat begitu Senja mendekat ke arahnya. “Kenapa? Nggak usah takut itu cuma Kakak.”
“Ayah…” cicitnya.
“Nggak usah takut, La. Kan, Ayah di sini, nggak kemana-mana.”
“Ini Kakak.” Perlahan, Senja menyentuh lengan adiknya. “Maaf, ya.” Kalau saja dia mempercayai Pelangi, menjadi pendengar sekaligus memberi respon baik. Mungkin Pelangi tidak akan kabur dari rumah dan tidak mengalami hal seperti ini.
“Ayah…”
“Itu Kakak.” Alan memindahkan tangan Pelangi dari lengannya. “Coba pegang tangan Kakak.”
Namun Pelangi tidak mau, dia kembali memegang lengan Ayah kuat-kuat.
Senja tiba-tiba saja menangis, tanpa suara.
Mereka baru tau kalau Pelangi punya phobia yang sudah bertahun-tahun dia simpan sendiri. Mereka baru akan membawanya ke terapis agar bisa sembuh segera. Namun bukannya sembuh, Pelangi bahkan terlihat jauh lebih kacau sekarang.
Alan menatap anak sulungnya, seolah berkata, “Nggak pa-pa. Wajar kalo dia trauma.”
“Ayah, mau pipis.”
KAMU SEDANG MEMBACA
CERAUNOPHILE [Completed]
Teen FictionSama halnya dengan sebuah lilin di tengah gelapnya malam, seperti itulah hubungan benang raja dengan sang guntur. ©copyright Listikay Oktober 2020.
![CERAUNOPHILE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/245495132-64-k317823.jpg)