Cakra sebenarnya kesal. Tapi mau bagaimana lagi, uang jajannya terancam dipotong kalau dia tidak mau menuruti perintah Nyonya Besar.
Bunda menyuruhnya membeli blueberry muffins- salah satu kue kesukaan beliau- di bakery langganannya. Tepatnya di sebuah mall tidak jauh dari sekolah.
Alasannya, karena Bunda sudah kelewatan frustasi lantaran sudah mencoba membuatnya berkali-kali, namun rasanya jauh berbeda dari yang dijual di sana. Lalu katanya, teman beliau berniat berkunjung ke rumah setelah lama tidak bertemu.
Belum lagi, dia harus membeli banyak kue sesuai perintah Bunda. Lengkap sudah penderitaannya.
"Lho? Retta??" Cakra nyaris tidak percaya begitu dia mengangkat kepalanya. Tadinya, dia memang hanya sendirian di dalam lift. Tapi sekarang, entah bagaimana ceritanya, sang pujaan hati berdiri tepat di sebelahnya.
Mungkin Cakra harus berterimakasih pada Bunda, karena beliau sudah membuat keduanya terjebak di sini.
Retta menoleh. Setelahnya, seperti ada yang mencabik hati Cakra kala Retta menggeser tubuhnya. Menjauhi cowok itu.
"Lo... apa kabar?" Cakra mendadak merasa canggung.
"Gue udah punya pacar," sahut Retta tanpa menolehkan kepalanya.
Entah bagaimana- setelah mereka putus- setiap kali melihat wajah Cakra, Retta jadi ingat Abu- monyetnya Aladdin.
Soalnya mirip. Itu saja masih mending, Abu punya penampilan yang rapi dan otak yang cerdas. Tentu berbeda dengan Cakra.
"Gue nggak tanya Lo udah punya pacar atau belum."
"Gue cuma ngasih tahu. Biar Lo sadar."
"Ta?"
"Hmm." Cewek itu menyahut ogah-ogahan.
"Bunda bilang dia kangen Lo. Ikut ke rumah, yuk?"
"Nggak!"
"Ini Bunda yang minta lho, Ta. Bukan gue."
"Harusnya Lo bilang sama Bunda."
"Bilang kalo kita udah nggak ada apa-apa lagi?" Cakra tersenyum getir. "Bunda bakal sedih, Ta."
"Bilang kalo Lo mutusin gue cuma karena fisik." Retta ingat betul bagaimana Cakra mempermasalahkan giginya yang agak maju ke depan. Dia hafal bagaimana sakitnya kalimat itu keluar dari mulut Cakra. Cowok yang Retta kira mau menerima dia apa adanya. "Bunda sedih karena punya anak kayak Lo. Bukan karena kita putus."
"Ta...."
Retta menyibukkan dirinya dengan ponsel.
"Kalo gitu kita masih temenan, kan?"
"Ogah!" Dia menyahut judes. "Lo pikir gue yang minta punya fisik kayak gini?! Tuhan yang ngasih begini, Anjing!"
Cakra kaget. Selama dia mengenal Retta, cewek itu tidak pernah berucap kasar sekalipun. "Maaf..."
Setelah itu, pintu lift terbuka. Membuat Retta mengucap syukur berkali-kali dan segera bergegas keluar secepat mungkin.
"Ta, tunggu dulu."
Retta mengangkat ponselnya yang berdering, tidak mempedulikan Cakra sama sekali. "Iya, Sayang?" Dia sengaja membesarkan suaranya. "Oke. Tunggu, ya."
Langkah Cakra terhenti secara otomatis. Dia hanya bisa merasakan sakit yang luar biasa tanpa tahu wujudnya. Cakra tidak jadi berterimakasih pada Bunda. Karena bukannya senang, dia justru sedih sekarang.
Saat mereka pacaran dulu, Retta bahkan tidak pernah memanggilnya dengan panggilan itu.
"RETTA, MAAF!" Dia sudah tidak peduli dengan orang-orang yang berlalu-lalang di sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
CERAUNOPHILE [Completed]
Fiksi RemajaSama halnya dengan sebuah lilin di tengah gelapnya malam, seperti itulah hubungan benang raja dengan sang guntur. ©copyright Listikay Oktober 2020.
![CERAUNOPHILE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/245495132-64-k317823.jpg)