Rayden yang sedang menikmati siaran langsung pergelutan rumah tangga tersebut sontak menghentikan pergerakannya yang tengah melahap permen kapas.
Cowok itu melongo.
Rayden mendengar dengan jelas bagaimana Zoe menghujani pertanyaan gadis ini. Tapi bisa-bisanya gadis itu malah menanyakan dirinya yang tidak tahu apa-apa.
Dia merasa seperti penior sekarang. Perebut wanita orang.
"La, please." Zoe memohon. "Kita nggak ada waktu buat ngomongin orang gila."
Rayden melotot tak terima. "Sembarangan Lo, bego!"
"Kenapa sih, Zoe?" Pelangi bertanya, bagaikan orang bodoh di mata Zoe sekarang.
"Lo yang kenapa! Kenapa keluar rumah hujan-hujan begini? Jangan nekat deh, La."
"Ya udah sih, orang nggak kenapa-kenapa juga," sahutnya enteng.
"Nggak kenapa-kenapa? Terus tadi itu apa? Ketakutan juga, kan?"
Rayden beranjak berdiri, berlari menerobos hujan begitu saja setelah menghabiskan permen kapas berbentuk ayam tersebut.
Ia menoleh ke belakang sebentar sembari berteriak. "Duluan ya! Puas-puasin berantemnya!"
Setelahnya, Pelangi hanya bisa menatap punggung cowok itu yang semakin mengecil, juga seolah tenggelam dalam derasnya hujan. Lalu menghilang di belokan.
Satu hal yang Pelangi sayangkan. Dia tidak mendapat jawaban.
***
Tidak pernah ada yang tahu siapa yang sebenarnya Pelangi rindukan. Kerena gadis itu selalu menyimpannya untuk diri sendiri. Tidak pernah bercerita pada siapa pun, sekalipun teman dekatnya.
Sama seperti pelajaran matematika sebelum-sebelumnya, Pelangi tidak pernah juga mendengarkan penjelasan Pak Botak di depan kelas. Ada hal lain yang bisa dilakukan, seperti mencoret-coret bagian belakang bukunya, atau menopang dagu dan melamun.
Tapi sekarang Pelangi tidak melakukan hal itu, dia justru melihat ke arah jendela yang terbuka lebar di sampingnya. Kebetulan yang sangat menyenangkan mendapatkan tempat duduk di sini.
Bertambah kebetulan saat pandangannya menangkap seseorang yang tidak asing, lewat begitu saja tanpa menoleh ke arahnya. Padahal jarak jendela dan koridor depan kelasnya begitu dekat.
"Ngeliatinya biasa aja kali," celetuk Elen yang kebetulan menoleh juga, refleks karena ada orang lewat.
Pelangi menoleh.
Tidak tahu kenapa, ia sangat penasaran dengan cowok itu. Dan mungkin saja ini kesempatan baginya.
"Itu tadi siapa?" tanyanya dengan berbisik. Agar tidak ketahuan mengobrol di jam pelajaran. Apalagi saat Pak Botak sedang menerangkan segudang ketidakpahaman bagi Pelangi.
Elen, teman sebangku Pelangi mengerutkan dahi sebelum menjawab. Ikut berbisik. "Namanya Rayden."
"Rayden?"
Elen mengangguk begitu yakin. "Arti namanya dewa guntur. Igh, keren banget deh, La."
"Lo kenal dia?"
"Kenal, lah. Lagian dulu kita satu SMP."
"Kalian deket?" Pelangi bertanya dengan begitu hati-hati. Bahkan Elen sampai mengetahui arti nama cowok itu.
"Enggak. Cuma tau doang." Elen menggeser kursinya agar lebih mendekat. "La, Lo tahu nggak?"
"Apa?"
KAMU SEDANG MEMBACA
CERAUNOPHILE [Completed]
Fiksi RemajaSama halnya dengan sebuah lilin di tengah gelapnya malam, seperti itulah hubungan benang raja dengan sang guntur. ©copyright Listikay Oktober 2020.
![CERAUNOPHILE [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/245495132-64-k317823.jpg)