33. Retrouvailles

222 27 14
                                        

Seolah sudah menjadi kebiasaan, Pelangi selalu duduk di bawah pohon mangga pinggir lapangan. Menunggu Rayden di sana agar mendapat tumpangan.

Sebenarnya bisa saja dia nebeng Zoe, tapi Pelangi maunya Rayden.

“Kok kayak jaketnya Rayden?”

Gadis itu mengangkat kepalanya yang dari tadi menunduk menatap ponsel, membuat pandangannya dan Binar bersitatap dalam waktu singkat.

Dia tersenyum penuh arti, lalu kembali memainkan ponselnya tanpa mempedulikan apa-apa lagi.

Pelangi memang memakai jaket Rayden sekarang. Ia lebih senang membawa jaket cowok itu kemanapun daripada jaketnya sendiri. Karena mendung dan cuaca lebih dingin dari biasanya, Pelangi memutuskan untuk memakainya secara terang-terangan.

Ia menoleh begitu seseorang mengambil cola di tangannya begitu saja. Menatap Rayden yang dengan santai meminumnya hingga tandas.

“Susah nggak?” tanya cowok itu sembari melempar botol cola ke tempat sampah.

Pelangi mengernyit bingung. “Apanya?”

“Soalnya, lah, dodol.”

“Oh…” Ia manggut-manggut. Itu pertanyaan yang selalu Pelangi inginkan keluar dari mulut Ayah. Tidak pernah sekalipun Ayah bertanya bagaimana perkembangannya di sekolah seperti Ibu dulu. Seolah itu pertanyaan tak berguna yang hanya akan berujung mengecewakan karena Pelangi tidak pernah bisa menjadi seperti yang beliau harapkan.

Gadis itu mengeluarkan kertas yang sudah dilipat kecil dari dalam saku seragamnya. Ia menunjukkan kertas itu sambil nyengir.

Rayden langsung menatapnya tajam. “Lo nyontek gue minggat ya.”

“Ini ngitung sendiri tau.” Pelangi memasukkannya lagi dalam saku. “Pulang sekarang?”

“Entaran aja, parkiran masih rame. Males,” jawab cowok itu, yang lantas duduk di sebelah Pelangi.

Itu juga jadi alasan kuat mengapa Pelangi lebih sering menunggu di sini daripada di parkiran. Di sana terlalu ramai, banyak cowok yang jelas membuatnya tidak nyaman.

Sesekali, Rayden akan berteriak heboh salayaknya orang ternama begitu disapa entah siapa.

“Oh ya.” Rayden menatap Pelangi dari samping. “Gue mau nanya tapi lupa mulu, anying.”

“Apa?”

“Kamar Lo kedap suara?”

“Hah?” Pelangi kaget. “Lo pengen mantab-mantab??!” Ia menggeser duduknya, menjauh dari cowok itu. “Kok gue takut, ya…”

“Kagak, bego!” Rayden meringis ketika beberapa orang menatap ke arahnya. “Nggak usah jauh-jauh.” Cowok itu menarik lengan Pelangi agar kembali mendekat ke arahnya. “Kalo ada petir kan beda, Tung.”

“Beda gimana?” Dia masih bingung.

“Ya bakal beda kalo kamar Lo kedap suara.”

“Oh, biar suara nggak masuk gitu?” Pelangi mulai merasa tidak nyaman saat banyak yang menatap ke arah keduanya. “Dulu gue pernah masang soundproof gitu, terus belum ada seminggu Ayah tau. Gue diomelin, disuruh nyopot lagi.”

“Terus sekarang?”

“Cuma pake gorden kedap suara. Tapi yang namanya takut tetep aja takut, sih.”

“Derita Lo itu mah.” Rayden yang baru sadar kembali melanjutkan kalimatnya. “Derita gue juga tiap ada petir kudu nyamperin ke rumah Lo!”

Melihat muka Rayden yang masam, Pelangi justru nyengir lebar. “Baik banget deh, jadi pengen peluk.”

CERAUNOPHILE [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang