30. Sebuah rahasia

154 28 18
                                        

Untuk yang sedang mengejar kesempurnaan, kamu bukan Tuhan.
Jika yang sederhana saja bisa membuat bahagia, dan merasa begitu berharga, untuk apa menggapai sesuatu yang bukan milik manusia?

***

“JANGAN BANYAK GERAKK!!” Elen berteriak sembari mengencangkan lengannya yang melingkar di pinggang Daffin, seolah enggan berjauhan barang sejengkal saja.

“SIAP GRAK!” Daffin ikut berteriak. “GUNTING, WOY!” lanjut cowok itu.

Cakra yang baru datang dengan dua kantung kresek di tangannya santai saja memakan apel sambil sesekali menyedot ingusnya. Dia sebal kalau flunya kambuh begini.

“Gila!” Rayden mengumpat, lantas segera beranjak berdiri dengan menggebu-gebu. “Heh, Lo berdua mau jadi kimcil ama gondes, hah??!”

“Gon… des?” tanya Daffin dengan raut muka bingung bercampur penasaran.

“Gondrong ndeso.”

“Gue cepak, Anjing!”

“Gue juga capek!” Elen menyahut.

“Cepak woy, elah.”

“Kimcil?” Zoe yang sudah berdiri dari duduknya buka mulut. Sementara Pelangi masih pada posisi semula, duduk santai seakan tidak terjadi apa-apa.

“Kini mulai cinta lelaki lain,” jawab Rayden.

Pelangi menghembuskan nafasnya jengah. “Apa sih, anjir.”

Cakra diam-diam berpindah posisi, duduk di atas karpet. Tepat di samping Pelangi setelah menaruh kantong besar tadi di atas meja. Ia menyodorkan apel bekas gigitannya di hadapan Pelangi dan berbisik pelan. “Mau?”

Pelangi tentu saja menggeleng. Cakra mengangguk santai sebelum kembali memusatkan pandangannya ke depan.

“Kok jantung Lo detaknya kenceng banget?” gumam Elen. Dia baru sadar, padahal dari tadi telinganya menempel tanpa jarak di dada Daffin.

Sontak saja cowok itu gelagapan, apalagi begitu melihat Rayden menatapnya tajam, penuh ancam. Daffin tidak pernah sedekat ini dengan perempuan, selain Sasa tentunya. Jadi menurutnya wajar jika jantungnya berdetak kencang lantaran merasa asing.

“JANGAN JAUH-JAUH!” Elen kembali memekik saat Daffin berusaha menjauh.

“Kalo detaknya lemah ya gue otw koit, lah.”

Rayden sang penegak keadilan, melangkah cepat menghampiri keduanya. Cowok itu menarik Daffin agar menjauh, namun Elen menahannya sekuat tenaga. Ia berteriak. “LALAPANNN PINJEM GUNTING ASTAGA!!”

“Buat apa?” Rayden yang menyahut.

Elen menatap cowok itu, tidak menyangka kalau Rayden yang lebih suka cengengesan bisa terlihat galak juga. “ANTING GUE NYANTOL NIH!”

“Hah?”

“Dia pake baju murah, benangnya jadi gampang nyantol.” Daffin melotot tak terima. “Lagian jadi orang pecicilan banget.”

“Cakra yang dorong-dorong noh,” sahut Daffin mencari pembelaan.

Tadinya Daffin dan Cakra ke rumah Pelangi bersama Zoe, tapi dua orang itu malah menggoda tetangga Pelangi yang katanya semok lebih dulu. Soalnya, menunggu Sasa itu juga perlu hiburan.

Begitu keduanya masuk ke halaman rumah Pelangi, Elen datang di antar Ervin dengan membawa dua kantung kresek besar yang isinya buah dan bermacam makanan. Namanya juga mengunjungi orang sakit dan berhubung ia juga tahu diri kan.

Lalu karena Elen merasa kesusahan, dia meminta keduanya membantu membawa belanjaannya. Jelas Elen tahu jika mereka teman-teman Rayden, tapi ia tidak tahu jika mereka sama menyebalkannya seperti Rayden.

CERAUNOPHILE [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang