39. Nestapa

163 30 3
                                        

“Sepet amat anjir muka Lo,” tegur Rayden sambil menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.

“Gue pengen mewek tau.” Pelangi ikut menyuapkan nasi sebanyak mungkin sampai pipinya menggembung besar.

Sekarang ini mereka tengah duduk santai di ruang tengah rumah gadis itu, menyantap nasi goreng buatannya bersama Rayden. Duduk santai di atas meja rendah dengan cowok itu di sebelahnya.

“Mewek aja teross, ampe dombleh sekalian!”

“Ayah nggak mau liat,” ujarnya sendu.

“Ya liat apaan dulu maksud Lo? Yang iya-iya apa bukan?”

Pelangi menenggak air putih lebih dulu. “Bukan.”

“Terus?”

“Nilai gue,” cicitnya. “Padahal nggak sampe lima menit. Tapi kenapa nggak mau juga?” Ia bertanya pelan.

Beberapa hari lalu, setelah Pelangi mengunjungi makam Ibu, nilai mereka memang sudah keluar. Tidak ada yang tahu bagaimana Pelangi sering kali begadang tiap malam untuk mengulang apa yang Rayden ajarkan.

Nilainya memang tidak sesuai dengan permintaan Rayden. Tapi buat Pelangi, apa yang ia dapat sudah luar biasa membanggakan. Dia sudah berusaha. Dan seperti sebelum-sebelumnya, Ayah tampak tidak mempedulikan itu.

Tidak pernah mau melihatnya, atau memperhatikan sedikit saja perkembangan Pelangi di sekolah. Ayah hanya asal menandatangani saja. Sebatas itu.

Mungkin memang Alan sudah beranggapan kalau Pelangi— anaknya yang tidak pernah beliau anggap sebagai anak— sudah terlahir bodoh, sampai kapan pun akan begitu. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari anak itu.

“Kan udah gue liat.”

“Tapi Lo kan bukan bapak gue.” Pelangi membantah. “Gue maunya bapak bukan mamak.”

“Gue bukan emak Lo anjir!”

“Oya.” Gadis itu lantas nyengir, membuat Rayden yang melihatnya merasa sedikit lega. “Maksudnya, gue maunya bapak bukan Lo.”

Saat Rayden berniat mencari makan di sore hari— ia berniat mengisi perut lebih dulu karena malamnya sudah janjian main futsal, Rayden tidak sengaja melihat Pelangi di pinggir jalan. Cowok itu sudah siap menghampiri Pelangi, namun tidak jadi ketika melihat Pelangi memasuki toko bunga.

Jelas itu hal yang tidak biasa.

Lantas, Rayden sengaja diam-diam mengikuti. Ternyata, Pelangi mengunjungi Ibunya. Kali ini gadis itu benar-benar datang sendirian. Itu artinya sudah ada kemajuan.

Meski beberapa kali Rayden melihat Pelangi menghentikan langkahnya di tengah deretan gundukan tanah hanya untuk menghela nafas panjang, seperti tengah menyakinkan dirinya sendiri.

Setelah sampai di makam Ibunya, Pelangi menaruh buket bunga yang ia beli. Senyum lebar menghias wajahnya. Lalu, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam ranselnya. Berceloteh sambil membolak-balik rapotnya dengan wajah berseri.

Seolah tengah menunjukkan kerja kerasnya, seolah dia ingin Ibunya ikut merasa bangga.

Dan jujur saja, hati Rayden terasa teriris melihatnya.

“Sini gue kekep.”

Pelangi menurut. Mendekatkan diri ke arah cowok itu sebelum sebuah lengan mengurung tubuhnya. Memberinya kehangatan sekaligus ketenangan dalam waktu bersamaan.

Rayden mencium puncak kepala Pelangi secara sekilas. “Anget nggak?”

“Anget.”

“Empuk nggak?”

CERAUNOPHILE [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang