44. Hilang arah

161 32 7
                                        

Jika hanya bersama Ayah di rumah, Pelangi biasanya hanya akan menghabiskan waktunya di dalam kamar kala malam menyapa. Tentu berbeda kalau Kakaknya pulang ke rumah seperti sekarang ini.

Mereka lebih sering berkumpul sambil mengobrol ringan. Makanya Pelangi merasa rumahnya terasa hidup kalau ada Kakaknya begini.

“Ayah, emang Pelangi boleh pacaran?” Lembayung mulai mencari perkara.

Tepat seminggu yang lalu, saat Senja meminta hal yang tidak-tidak, Lembayung memohon-mohon pada istrinya itu. Menyuruhnya untuk menganti permintaan yang lebih mudah ia lakukan.

“Kamu pilih rebahan di got bentar aja atau malam ini tidur di got sampe pagi?” Senja malah bilang begitu, yang lantas dengan mudah membuat pria itu gelagapan.

“Ya tapi kan…” Dia buru-buru menyahut. “… bau tau.” Lembayung memang tergolong pria yang menjunjung tinggi kebersihan, tentu saja ia sangat keberatan.

“Ini kan anak kamu!”

“Ya iya… kan aku yang goyang.”

“Ya makanya sana!” sahut Senja. “Ini permintaan pertama anak kamu lho, masa nggak diturutin?!”

“Tapi nyemplung di got itu jorok, Sayang.” Ia masih memohon-mohon. “Ganti yang lain aja, ya?”

“Nggak bisa diganti! Maunya itu!”

Maka dengan berat hati, Lembayung menuruti. Pria itu memakai masker guna menutupi mulutnya, topi, sarung tangan serta sepatu boots agar semua terlindungi dengan baik.

“Kalo kaya gitu mukanya mana kelihatan!” Yang lantas menciptakan protesan Senja. “Anak kamu nggak bisa liat muka bapaknya, lah.”

“Kan gantengnya masih keliatan, dia masih bisa liat tenang aja.”

“Kok suaranya kayak nggak ikhlas gitu, sih?!” sembur wanita itu lagi.

“Ini udah yang paling ikhlas.” Lembayung langsung saja mengajak Senja berjalan ke got depan daripada nantinya Senja protes lagi.

Begitu sampai, Lembayung hanya berdiri. Tampak ragu dan enggan. Membuat Senja berseru lagi. “Ngapain diri doang! Buruan, aku keburu pegel lho ini.”

“Iya bentar, persiapan dulu.”

Senja yang sudah tidak sabar, langsung saja mendorong tubuh Lembayung dari belakang dengan sekuat tenaga. Detik berikutnya, dia tersenyum sumringah ketika melihat tubuh pria itu nyungsruk di got tanpa adanya persiapan.

“SENJA ANJIINNNGGGG!”

“Boleh-boleh aja.” Ayah menyahut santai.

Pelangi menjulurkan lidahnya ke arah Kakak iparnya.

“Dulu Ayah juga pacaran, kok.”

“Tapi pacarnya jelek, Yah. Kasian.”

Pelangi baru akan menyahut, namun gagal kala suara guntur tiba-tiba saja terdengar. Refleks, gadis itu mengangkat kedua kakinya ke atas sofa, memeluknya erat-erat dengan tangan yang mulai gemetar dan jantung yang berdetak lebih cepat.

Hal itu membuat Lembayung yang melihatnya mengerutkan kening kebingungan. “Lala kenapa?”

“Takut… takut… takut.” Pelangi meracaukan kalimat itu berkali-kali.

“Takut? Takut apa?” Senja ikut buka suara. Namun Pelangi tidak menyahut, membuat Lembayung beranjak mendekat. Berjongkok di hadapan Pelangi yang duduk di sofa single.

CERAUNOPHILE [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang