6. Spicy Rumor

6.7K 335 35
                                        

"Jika Taehyung Hyeong tak ingin maka biarkan saja! Mengapa malah kau yang mengatur-atur! Lagi pula kau ini siapa? Baru kenal seminggu saja sok dekat!" sentak Jungkook membuat semua orang terkejut.

Wajah Lisa seketika menegang. Untuk sesaat, ia hanya bisa terpaku menatap pria itu dengan bibir terkatup rapat. Dadanya sesak, bukan karena takut, melainkan karena tak pernah menyangka pria itu akan menyentaknya di depan banyak orang seperti sekarang ini. Bahkan Taehyung yang tengah kesakitan pun ikut mendongak untuk melirik, memastikan situasi di antara mereka.

Rosé menyenggol lengan Lisa, lalu berbisik, "Lisa, diamlah! Itu bukan urusanmu."

Setelah melontarkan kata-kata itu, Jungkook langsung duduk di samping Taehyung, menunjukkan sikap simpatik terhadap luka hyeong-nya, seolah tak terjadi apa-apa. Seakan tak merasa bersalah atas ucapan pedasnya yang baru saja ia lontarkan kepada Lisa.

Hey ... bersalah? Bersalah bagaimana? Lagipula, untuk apa? Jungkook merasa tak mengatakan sesuatu yang berlebihan. Ia hanya menegaskan agar Lisa tak mengatur-atur Kim Taehyung. Apa itu salah? Tentu saja tidak! Benar begitu, 'kan?

Setidaknya, begitulah ia meyakinkan dirinya sendiri.

Helaan napas berat Lisa terdengar jelas hingga ke telinga Jennie. Tatapannya menusuk, menancap lurus ke arah Jungkook dengan sorot mata tajam yang sedikit pun tak terlihat bergetar. Matanya berkilat entah karena air mata atau karena amarah yang membuncah. Pandangan nyalang itu bahkan lebih lantang dari sebuah kata yang terucap dari mulut si jalang.

Rahangnya mengeras, tampak jelas garis tegas di pipinya saat ia menggertakkan gigi, mencoba menahan sesuatu yang mendidih di dalam dadanya. Ia tak berkata sepatah kata pun, tapi tatapannya sudah lebih dari cukup.

"Jungkook! Jaga sikapmu! Jangan mentang-mentang karena sedang off-cam, kau merasa bisa berbicara semaumu! Berbicaralah dengan sopan, jangan seperti itu!" tegur Sajang-nim dengan nada tajam yang berdiri tak jauh di samping PD-nim hingga membuat beberapa staf produksi ikut menoleh ke arah mereka.

Jimin dan Suga mengangguk, mengiyakan.

"Iya, Kook. Lisa ada benarnya juga. Taehyung sebaiknya diperiksa oleh dokter, supaya lukanya cepat pulih," ucap Jimin.

"Setuju! Lebih cepat sembuh, lebih baik," timpal Suga.

Jungkook terdiam, matanya melirik tajam ke arah Lisa yang masih berdiri tak jauh di depannya. Gadis itu ... benar-benar nampak berbeda dari kebanyakan gadis yang ia temui.

"Sepertinya dirimu lapar ya, Kelinci? Bukan kah begitu? Makanya marah," goda J-Hope dengan tangan yang menarik-narik sebelah pipi Jungkook.

"HAHA ... KAU BENAR!" Seokjin mengangguk setuju, dan tak lama kemudian, gelak tawa lainnya pun menyusul.

PD-nim menarik lipatan tangan di dadanya, lalu menatap sekeliling. "Oke, kita tidak bisa ambil risiko. Syuting kita hentikan sementara, bawa Taehyung ke klinik terdekat sekarang juga. Bagaimana pun keselamatan tetap yang utama. Jadi, mulai sekarang berhati-hati lah, jangan ada insiden yang lainnya lagi."

***

Malam telah larut, jarum jam nyaris menyentuh angka sembilan. Di luar, langit terlihat kelam, nampak menggantung seperti kanvas pekat yang ditaburi bintang-bintang yang enggan bersinar. Begitupun dengan angin yang terlihat malu-malu menggoyangkan dedaunan di luar jendela kamar dua gadis yang telah bersahabat cukup lama itu.

Bugh.

Suara empuk terdengar saat tubuhnya dengan sengaja ia hempaskan di atas kasur, sehingga membentuk pantulan ringan di permukaannya. Ia membaringkan diri dalam posisi terlentang, kedua tangannya merentang lebar hingga menyentuh sisi kasur, sementara kakinya menggantung lelah di tepian ranjang.

Haphazard || LisKookCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang