31. Just Blame Me!

1.2K 72 8
                                        

"Jika tak ada yang mau mengalah, aku akan menelepon Bang Si-hyuk PD-nim dan mengatakan bahwa kita tak akan perpanjang kontrak, kemudian bubar tahun depan."

Sang leader akhirnya membuka suara. Suara itu tak begitu tinggi, namun terasa menyesakkan. Ia benar-benar sudah sangat geram. Amarahnya nyaris saja meledak, namun ia masih cukup sadar diri untuk tak melakukannya. Beruntung bila pria yang hampir tiga puluh tahun itu masih bisa menahan amarahnya, mengingat mereka berada di tempat umum, dan tak hanya mereka yang ada di sana.

Ruang tengah vila seketika membeku.

Atmosfernya terasa dingin di tengah udara pagi yang seharusnya hangat oleh cahaya matahari.

Tak ada seorangpun yang berani bergerak. Bahkan hembusan napas di antara mereka pun terdengar amat jelas.

Bubar!

Bubar?

Ya, bubar.

Namjoon cukup sadar untuk bisa dikatakan sedang dalam pengaruh emosi sesaat. Ia tahu persis apa yang baru saja ia ucapkan. Ia bukan sekadar mengancam. Jika keadaan tak kunjung membaik, ia tak akan segan-segan untuk benar-benar melakukannya, bahkan jika kariernya dipertaruhkan.

"Namjoon, jangan mengatakan hal seperti itu!" Seokjin menatapnya lekat, ada nada peringatan dalam suaranya.

"Iya, Hyeong! Jaga ucapanmu. Ini bukan sesuatu yang bisa kau ucapkan sembarangan," timpal Jimin.

"Kau itu seorang leader, Hyeong! Masa depan kita bergantung padamu."

"Jangan mengambil keputusan sebesar itu hanya karena kau sedang emosi." Suga ikut membuka suara di tengah ketumpang-tindihan keramaian yang mereka buat.

"Ini sama sekali tidak lucu, Hyeong!"

"Aku tidak bercanda," ucapnya dengan suara rendah. "Kalau ini terus saja berlanjut, yang hancur bukan cuma kalian berdua." Tatapan Namjoon beralih dari satu wajah ke wajah lain, berhenti lebih lama pada dua sosok yang menjadi pusat persoalan di antara mereka.

Suga menyandarkan tubuhnya ke sofa, mengembuskan napas panjang, seolah beban itu ikut turun ke dadanya. Sementara itu Kim Seokjin memijat pelipisnya, kepalanya terasa berat. Dan Jimin hanya bisa menatap Taehyung dan Jungkook bergantian, berharap salah satu dari mereka akhirnya berbesar hati untuk saling memaafkan.

Jungkook menatap Namjoon dengan rahang mengeras, sesekali hembusan napas beratnya terdengar sampai ke telinga Taehyung yang duduk di sebelahnya. Pria itu terlihat mengerikan. Wajah tanpa ekspresinya yang dipenuhi lebam samar tampak kontras dengan tatapannya yang lurus, tajam, dingin, dan terlihat tak tertarik sedikit pun dengan keadaan.

 Wajah tanpa ekspresinya yang dipenuhi lebam samar tampak kontras dengan tatapannya yang lurus, tajam, dingin, dan terlihat tak tertarik sedikit pun dengan keadaan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kalau itu yang terbaik, ya lakukan saja."

Kalimat itu ... sontak saja berhasil membuat seluruh sorot mata langsung tertuju kepada Taehyung.

Haphazard || LisKookCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang