Setelah setidaknya tiga jam mengelilingi dan menjelajahi setiap sudut Lotte World untuk mencoba berbagai macam permainan yang membuat jantung berdebar serta tawa meledak, akhirnya kini Lisa merasa lelah. Otot betisnya terasa kaku. Meskipun menyenangkan, tapi jujur saja ini benar-benar lebih menguras tenaga ketimbang latihan dance seharian.
Tubuhnya memang lelah, tapi entah mengapa malam ini terasa berbeda. Semuanya seakan larut bersama semilir angin pembawa kebahagiaan.
Bahkan, langit di atas mereka kini telah berubah menjadi selimut malam yang pekat, begitu gelap gulita, lantaran jarum jam di pergelangan tangan kiri Sehun sudah menunjuk pukul 19.30 waktu setempat.
Hari yang penuh tawa ini pelan-pelan mulai berakhir, seolah waktu pun enggan beranjak terlalu cepat dari momen yang terasa nyaris sempurna itu.
Sehun sukses membuatnya lupa akan masalah yang akhir-akhir ini membebani pikirannya. Pria itu sungguh seperti pelabuhan tenang bagi kapal-kapal yang tengah dihantam badai.
Ada ketenangan dalam caranya memandang, ada kehangatan dalam caranya berucap, dan ada sesuatu dalam dirinya yang selalu berhasil menenangkan Lisa.
Lisa menatap wajah Sehun dari samping, siluetnya yang disinari gemerlap lampu taman bermain yang memantul di matanya itu membuat otak Lisa tanpa sadar mulai membuat skenario-skenario indah yang mungkin akan mereka jalani nanti.
'Bagaimana mungkin seseorang bisa setenang ini, sesabar ini, dan tetap membuatku merasa aman hanya dengan keberadaannya di sampingku?' batinnya lirih.
Dan di sinilah mereka berdua sekarang, duduk berdampingan di dalam kabin biang lala yang perlahan naik mengudara, setelah mengisi perut yang tadinya terasa lapar dengan semangkok Budae Jjigae hangat sebagai makan malam sederhana mereka.
Lisa menyandarkan kepalanya di bahu kiri Sehun, sementara tangannya melingkar lembut di lengan Sehun, memeluknya dengan manja, seolah mencari kenyamanan yang hanya bisa ia temukan di sana.
Tapi sejujurnya, Sehun tak benar-benar ada di sana. Pikirannya melayang jauh menembus gemerlap lampu yang masih saja bisa menyorot wajahnya meski kini mereka tengah berada di atas ketinggian.
"Pria yang benar-benar mencintaimu, tak akan pernah merusakmu."
Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba saja kalimat yang pernah diucapkannya pada Lisa terputar dengan sendirinya, menggema seperti gema dalam ruang kosong di benaknya.
'Bajingan! Aku benar-benar bajingan!' Begitu gumam batinnya.
Sudah seminggu berlalu, tapi rasa bersalah dari bayangan pagi itu masih terus saja menempel kuat di benaknya, bukan tanpa alasan.
Ia pernah berjanji. Pada dirinya sendiri, bahkan diam-diam dalam tiap doanya yang tak pernah Lisa tahu. Ia akan menjaga gadis itu, akan menghormatinya, menunggunya, lalu menikahinya lebih dulu sebelum menyentuhnya lebih jauh.
Tapi, semua itu hancur!
Ia ingkar dengan perkataannya sendiri dan dengan sadar ia merusak Lisa. Karena siapa? Benar, karena nafsunya sendiri. Saat itu ... Sehun terlalu dikuasai hasrat.
Sehun akui itu!
Ia tak bisa menyalahkan situasi. Bahkan mungkin menyalahkan bisikan-bisikan yang ia dengar setelah percakapannya dengan Kai di toilet malam itu, yang memicu sesuatu yang seharusnya bisa ia redam. Namun, yang paling salah tetap dirinya. Dirinya sendiri yang tak bisa mengendalikan segala gejolak yang ada, tak bisa membedakan cinta dan obsesi untuk memiliki.
Lisa mempercayainya, dan ia ... malah mengkhianati kepercayaan itu.
'Kau mengambil mahkota keperawanannya!'
KAMU SEDANG MEMBACA
Haphazard || LisKook
Fanfiction[1st story] - Tahap Reupload Genre : Fanfiction, Romance, Adult. Jeon Jungkook, salah satu anggota dari sebuah boy grup terkenal, BTS, bukanlah Jeon Jungkook ketika tidak ada kamera yang sedang menyorotnya. Image cute, baik, dan berhati lembut bak...
