55. Nothing Left to Hide

987 107 88
                                        

"Sebenarnya ... aku kurang yakin kalau Taehyung sunbae-nim yang melakukan itu." Perkataan Rosé membuat Jisoo dan Jiyeong-nim yang sejak tadi menikmati makan siang mereka hampir bersamaan mengangkat kepala dan menoleh ke arahnya.

"Bagaimana jika ternyata ... bukan Taehyung sunbae-nim yang melakukan itu?" Rosé menatap Jisoo dan Jiyeong-nim bergantian.

"Kenapa kau tak yakin?" tanya Jiyeong-nim serius. "Apa yang membuatmu berpikir begitu?"

Rosé terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya sesaat, lalu mengembuskan napas. "Entahlah, aku hanya ... tak yakin saja."

Manajer itu mendecak pelan. "Ya ampun, Rosé ...." Jiyeong-nim memijat pangkal hidungnya. "Kepalaku sudah cukup penuh dengan masalah ini dan kau justru membuatku semakin bingung. Aku sedang tidak punya waktu untuk menebak-nebak isi kepalamu, Chaeyoung-ah."

Setelah menyeruput sisa kuah makanan di mangkuknya, Jiyoung Eonnie kemudian berdiri. "Aku akan ke toilet sebentar. Jika masih memungkinkan, aku akan kembali ke sini untuk membicarakan masalah ini lebih lanjut. Tapi, jika tidak, aku akan langsung menghadiri rapat. Kalian tidak usah menungguku. Arraseo?" Tanpa menunggu respons, ia pun melangkah meninggalkan mereka berdua.

Punggung yang perlahan menghilang ditelan jarak itu masih juga menyita perhatian Rosé. Matanya terus mengikuti, namun bibirnya kembali berucap lirih, "Sebenarnya, aku malah lebih mencurigai Sehun sunbae-nim."

Jisoo sontak menoleh, menatap Rosé yang tatapannya terlihat kosong menatap ke depan.

"Tapi, jika dipikir-pikir lagi ... pantas saja Jiyeong Eonnie langsung menuduh Taehyung sunbae-nim, ia memang punya citra se-badboy itu. Pikiran orang-orang juga pasti lebih mudah mengarah kepadanya," sambung Rosé.

"Padahal, jika Jiyeong Eonnie tahu bahwa Lisa telah lama berpacaran dengan Sehun sunbae-nim, aku yakin Jiyeong Eonnie pasti juga akan mencurigai mereka, bukannya malah Taehyung sunbae-nim," jelasnya dengan mata yang masih terus menatap ke depan meski kini sosok perempuan itu sudah benar-benar menghilang.

'Apa yang bocah ini katakan ada benarnya juga. Sehun lah kekasih Lisa, mengapa malah menuduh orang lain yang belum tentu pelakunya?' batin Jisoo, tangannya mengaduk gelas minuman yang ia pesan sebelum meneguknya hingga habis.

Sehun adalah kekasih Lisa. Bukankah jauh lebih masuk akal jika kecurigaan pertama mengarah kepadanya, dibanding menuduh seseorang yang hanya pernah dipasangkan dalam sebuah acara? Ya, Jisoo rasa ia perlu membunuh pria itu jika memang ia pelakunya!

Jisoo mengangguk kala Rosé menatapnya. "Kau benar. Itu memang lebih masuk akal tapi——"

"Atau tidak dengan keduanya?" potong Rosé tiba-tiba. Matanya membulat dengan raut wajah yang berubah tegang setelah sebuah kemungkinan lain terlintas di benaknya tanpa disangka-sangka.

Jisoo mengernyitkan keningnya. "Apa maksudmu?"

"Jungkook."

***

Bayangan ketika pintu baru saja dibuka dan semua mata langsung tertuju padanya masih teringat begitu jelas di benak Lisa. Bagaimana sorot menyedihkan dari Jennie yang menatapnya juga tatapan mata penuh amarah dan kekecewaan dari Jiyeong-nim.

Segala ketakutan yang selama ini ia kubur rapat akhirnya menemukan jalannya sendiri untuk muncul ke permukaan.

Malam itu adalah malam terburuk bagi Lisa.

Apalagi ketika irisnya mendapati bahwa seluruh rahasianya kini telah digenggam oleh Jennie juga sang manajer.

"Ini milikmu, bukan?"

Haphazard || LisKookCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang