45. Confirmed: Craving?

891 80 78
                                        

Jeon Jungkook.

Hanya pria itu yang dengan berani-beraninya mengganggu ketenangan yang sudah Lisa buat.

Sialan.

Ia muak!

Hanya dengan melihat namanya saja sudah cukup membuat kepalanya semakin pening.

Lisa langsung menolak panggilan itu tanpa ragu. Layar ponsel kembali gelap saat ia membaliknya dengan gerakan kasar, kemudian memalingkan wajah kesal. Rahangnya mengeras. Sedikit pun ia tak berniat mengangkat panggilan tersebut.

Tapi, belum sempat ia menarik napasnya lagi, suara nyaring itu sudah kembali terdengar menusuk gendang telinganya semakin dalam. Ponselnya kembali bergetar. Berdering lagi, lagi, dan lagi.

Suara nyaring itu terus memecah kesunyian apartemen, memantul di antara dinding-dindingnya yang sejak tadi menjadi saksi bisu kehancuran seorang Lalisa.

Dengan mata yang masih sembab dan rambut acak-acakan ia mendecak kesal, kali ini bahkan terdengar lebih keras.

Apa pria itu tidak tahu cara menyerah?

Ia pikir dengan menolak panggilan itu, Jeon Jungkook akan menyerah? Sepertinya tidak. Pria itu benar-benar tak mau menyerah barang sedikit pun.

Terbukti dari layar ponselnya yang kembali menyala. Kali ini bukan panggilan, melainkan sebuah pesan masuk. Tetap dari orang yang sama.

Jeon Jungkook
Angkat teleponmu,
jika tak ingin 'kusentuh lagi.

Pesan yang tak sengaja terbaca itu sukses membuat alisnya bertaut.

Jemarinya yang semula diam akhirnya bergerak untuk mengambil kembali ponselnya yang tergeletak tak jauh di samping kakinya yang ia tekuk, lalu membuka pesan itu dengan rasa kesal yang sudah memuncak hampir sampai ke ubun-ubun.

Lisa membaca ulang kalimat itu sekali lagi. Mencoba memastikan bahwa ia tak salah membaca.

Apa-apaan ini?! Apa yang sebenarnya diinginkan oleh pemuda brengsek itu?

Hell! Persetan dengan Jeon Jungkook.

Jari-jarinya mengerat di sisi ponsel hingga buku-buku jarinya memucat. Ada sesuatu di dalam dadanya yang langsung mendidih, bercampur antara rasa marah, lelah, dan perasaan asing yang tidak ingin ia akui.

"Brengsek ..." desisnya akhirnya.

Ia melempar ponsel itu di atas sofa, tetapi bahkan dari jarak itu, layar yang kembali menyala terasa seperti terus mengawasinya. Lagi-lagi dering panggilan masuk kembali terdengar dan memaksanya untuk mengangkat panggilan itu.

"SIALAN, APA YANG KAU——?!" bentak Lisa setelah akhirnya memutuskan untuk mengambil dan menggeser tombol hijau pada layar ponselnya dengan kesal.

Suara yang terdengar berat, datar, dan tegas di seberang sambungan itu langsung memotong ucapannya.

"Katakan padaku, berapa nomor apartemenmu?"

Jemarinya yang masih menggenggam ponsel mengencang perlahan. Ia menarik napas dalam, mencoba menahan amarahnya agar tak meledak, karena akan percuna saja bila ia marah sekarang.

"Apa maumu?"

"Cepat katakan saja," ujar Jungkook menuntut.

Nada Jungkook tidak berubah, tetap datar, tapi penuh tuntutan yang terasa seolah ia memang berhak mengetahuinya. Padahal ia siapa? Kekasih Lisa juga bukan.

Lisa terdiam beberapa saat.

Apa yang sebetulnya pria itu rencanakan? Kenapa tiba-tiba memaksanya untuk mengatakan nomor apartemennya sampai seperti ini?

Haphazard || LisKookCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang