51. Struggle In My Life

784 85 225
                                        

"Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?"

Perlahan Lisa melepaskan pelukan mereka. Sudut bibirnya masih menyunggingkan sebuah senyuman kecil sebagai balasan atas sambutan hangat yang mereka berikan, sementara kakinya kini sudah melangkah menuju ruang tengah bersamaan dengan senyumannya yang memudar.

"Tidak. Iya. Maksudku, aku baik-baik saja," ralatnya cepat sebelum Rosé, Jennie, ataupun Jisoo menyadari ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.

Langkah kaki mereka perlahan menyusul di belakang Lisa.

"Beberapa hari lalu manager Eonnie mencarimu. Kami bilang kau sedang tidak ingin diganggu dan sedang menenangkan diri sejenak di apartemen, jadi kami menjadwalkan ulang untuk latihan Minggu depan."

Langkah kaki Lisa terhenti. Ia yang berdiri beberapa langkah di depan Jennie pun lantas menoleh. "Minggu depan?" ulangnya. "Aku sudah baik-baik saja. Besok latihan juga tidak apa-apa."

Mendengar itu, Jisoo langsung merangkul pundak Lisa dari samping, lalu perlahan menggiring gadis itu menuju sofa dan mendudukkan gadis berponi itu di sana. "Tidak, tidak. Jangan katakan itu. Kau masih perlu istirahat, jangan memaksakan diri."

"Aku setuju dengan Jisoo Eonnie. Lagipula, para penggemar akan mengerti. Jadi, kau tak perlu khawatir, Lisa," tutur Rosé lembut seraya mengembangkan senyum yang terlihat menenangkan.

Gadis pirang itu kemudian mendudukkan diri pada single sofa yang berada tak jauh di samping Jisoo dengan tangan terulur untuk meraih bungkus camilannya yang sejak tadi tergeletak di atas meja. Begitu tangannya masuk, ia tahu bahwa isinya kini hanya tinggal setengah lalu mulai menyandarkan tubuhnya santai.

Jennie mengangguk setuju.

Tanpa banyak bicara, ia ikut duduk di samping Lisa. Tangannya perlahan menyelip di lengan gadis itu, sementara kepalanya disandarkan pelan pada bahu Lisa. Kehangatan sederhana itu sudah lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa mereka semua ada di sisinya.

Lisa tersenyum tipis. Betapa beruntungnya ia bisa memiliki sahabat-sahabat yang begitu pengertian seperti mereka. Dibanding apapun, hal ini benar-benar menjadi salah satu hal paling berharga dalam hidupnya.

Namun, baru beberapa detik berlalu, senyuman itu langsung sirna dan tergantikan oleh wajah yang dihiasi oleh alis yang bertaut dan hidung yang berkerut.

"Hmmp--! Eonnie ... kau memakai parfum baru?" Tanpa sadar Lisa mengapit pangkal hidungnya di antara ibu jari dan telunjuk, berusaha menghalau aroma yang menurutnya terasa begitu aneh dan menyengat. "Aromanya sungguh membuatku ingin muntah saja," imbuhnya dengan suara sengau.

Jennie memincing. "Hah?" Ia buru-buru melepas pelukannya lalu dengan spontan mulai mengendus aroma tubuhnya sendiri. "Tidak, kok. Aku memakai parfum yang biasa kupakai. Aku juga hanya menyemprotkannya sekali. Lagi pula, ini aroma parfum kesukaanmu, 'kan?"

Lisa terdiam. Oh ya? Tapi wanginya terasa berbeda di penciuman Lisa.

Wewangian yang biasanya selalu ia sukai kini justru terasa menusuk hidung hingga membuat isi perutnya kembali bergolak.

Kening Jennie semakin mengernyit bingung kala Lisa mulai bangkit dari duduknya dan berlalu begitu saja menuju kamar diikuti tatapan dari Jisoo dan Rosé yang turut kebingungan.

"Dia kenapa?"

***

Beberapa hari berlalu cukup sulit bagi Lisa. Padahal ia sudah berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa, akan tetapi yang ada tubuhnya justru seperti memiliki kehendaknya sendiri.

Haphazard || LisKookCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang