"Jadi, apa yang bisa saya bantu hari ini?" tanya dokter itu setelah meletakkan map rekam medis di atas meja.
Sesaat, Lisa menelan ludah.
Lidahnya terasa kelu. Entah mengapa, pertanyaan yang terdengar sederhana itu justru terasa begitu sulit untuk ia jawab.
Kalau boleh jujur ... sebenarnya Lisa benar-benar ingin melenyapkan bayi di dalam kandungannya. Tentunya setelah melewati banyak pertimbangan. Tak peduli entah siapa ayah biologisnya. Tak peduli siapa pemilik benih yang kini tumbuh di dalam rahimnya itu.
Yang jelas, membiarkannya tumbuh sama saja dengan membiarkan kariernya dihancurkan perlahan.
Ya! Lisa sudah membulatkan tekad.
Kini, kedua tangannya yang berada di atas pangkuan saling menggenggam erat, berusaha menghalau rasa dingin yang terasa meskipun telapak tangannya berkeringat. Sesaat ia menundukkan kepala, berusaha menyusun kalimat yang sejak tadi berputar-putar di dalam benaknya tanpa tujuan yang jelas. Ia tak tahu harus memulai semuanya darimana.
"Aku ..." Suaranya menggantung. Ia mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri untuk melanjutkan ucapannya, "... aku tidak yakin."
Dokter itu tidak terburu-buru menanggapi, membiarkan keheningan mengambil jeda sejenak. Seolah mengerti bahwa perempuan di hadapannya sedang kebingungan untuk mulai berkonsultasi.
Lisa menjilat bibirnya yang mulai terasa kering. "Akhir-akhir ini ... aku sering merasa mual."
Dokter perempuan yang masih terlihat cukup muda itu pun mengangguk pelan, lalu ujung pulpen di tangannya segera menyentuh lembar kertas yang ia bawa.
"Sejak kapan keluhan itu berlangsung?"
Pertanyaan itu membuat bibir bawahnya tergigit pelan, sementara pandangan matanya jatuh menelusuri isi meja di hadapannya dengan gelisah, seperti sedang berusaha mengais ingatan yang hilang. "Aku tidak begitu ingat. Sudah cukup lama, aku tak tahu pastinya kapan, tapi mungkin ... sudah lebih dari satu bulan yang lalu."
"Apakah juga disertai dengan muntah?"
Lisa mengangguk pelan. "Kadang."
Pulpen di tangan dokter itu kembali bergerak.
"Baik. Selain itu, apakah ada keluhan lain?"
Lisa terdiam sesaat. Tatapannya jatuh ke pangkuannya sendiri, sebelum akhirnya menjawab pelan.
"Aku sering merasa pusing ketika baru bangun dari tidur, dan ... dokter tahu? Rasanya pandanganku agak berkunang-kunang jika berdiri terlalu cepat dan itu langsung memicu rasa mualnya."
Dokter mengangguk dengan senyum tipis. "Baik. Ada yang lainnya lagi?"
Lisa berpikir sejenak sebelum menggeleng pelan. "Umm ... tidak."
Dokter kembali menatap lembar rekam medis di tangannya. Sejenak, keheningan itu membuat Lisa semakin menegang.
"Apakah Anda sudah mendapatkan menstruasi Anda?"
Pertanyaan itu tanpa sadar menghentikan detak jantung Lisa sejenak. Wajah paniknya langsung nampak begitu saja.
Kepalanya menggeleng. "Aku rasa ... belum."
Pulpen itu berhenti bergerak.
Sorot mata lembut yang terlihat keibuan penuh kasih sayang itu beralih menatap Lisa kembali. "Sudah berapa lama?"
"Aku tak mengingatnya."
Dokter mengangguk pelan.
"Apakah siklus menstruasi Anda biasanya teratur?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Haphazard || LisKook
Fanfiction[1st story] - Tahap Reupload Genre : Fanfiction, Romance, Adult. Jeon Jungkook, salah satu anggota dari sebuah boy grup terkenal, BTS, bukanlah Jeon Jungkook ketika tidak ada kamera yang sedang menyorotnya. Image cute, baik, dan berhati lembut bak...
