"Apa yang kau lakukan, bitch?!" bentak Jungkook dengan suara rendah, rahangnya mengeras saat ia menatap tajam perempuan di depannya.
Bukannya takut, jalang itu justru tersenyum nakal di bawah cahaya lampu yang meredup. "Eum ... aku hanya membersihkan tumpahan soju di lehermu," jawabnya dengan suara lembut yang sengaja dibuat terdengar menggoda.
Sialan! Dia sangat pintar menggoda! Tak heran jika Jungkook selalu tergoda padanya. Karena seekor kucing tak akan pernah bisa menolak ikan asin jika disuguhkan di hadapannya secara cuma-cuma.
Lee Yubi mendekatkan wajahnya lagi, bibirnya hampir menyentuh telinga Jungkook. Ia lalu berbisik pelan, "Oppa ... tak sedang ingin bercinta? Aku bisa memuaskanmu malam ini," tawarnya tanpa malu, jari-jarinya kembali menelusuri dada bidang Jungkook dengan gerakan lambat yang penuh arti.
"Singkirkan tanganmu!"
"Kau ini kenapa?" katanya kesal, suaranya naik satu oktaf ketika tangannya disingkirkan secara kasar. "Tak perlu membentakku seperti itu jika memang kau ada masalah!"
"Sudah kukatakan, aku sedang ingin menyendiri."
'Menyebalkan!' pikir gadis itu mendengus tak terima. Tapi, gadis itu tak juga menyerah.
Ia lantas memindahkan rambut panjangnya ke samping lalu bergumam, "Aneh sekali, tak biasanya kau memikirkan masalahmu sebegitunya. Setahuku ... kau tak pernah peduli dengan masalah yang ada di hidupmu. Kali ini berbeda? Ada apa?"
Kalimat itu membuat Jungkook berdecak. Lidahnya bergerak acak menyentuh pipi bagian dalamnya, sementara dada bidang itu terlihat beberapa kali naik turun dengan hembusan napas kasar.
Kesal sekali rasanya!
Entah pada Lee Yubi, pada dirinya sendiri, atau pada semua hal yang sejak kemarin terus membuat kepalanya berdenyut.
Jemarinya kembali meraih botol soju di atas meja dengan gerakan kasar. Kaca dingin itu langsung berpindah ke genggamannya sebelum pria tersebut meneguk isinya cukup banyak sekaligus, berharap cairan pahit itu mampu meredam kekacauan di dalam kepalanya meski hanya beberapa detik saja.
"Hey, hey ... tenangkan dirimu." Lee Yubi segera menahan tangan Jungkook sebelum pria itu kembali meneguk soju terlalu banyak. Jemarinya mengambil alih botol hijau tersebut dari genggaman Jungkook lalu meletakkannya kembali di atas meja kaca. "Kau ingin bercerita? Mungkin aku bisa sedikit membantumu," ucapnya lembut sambil menatap Jungkook lekat.
Suaranya terdengar begitu halus, lembut, manis, dan menenangkan, namun entah mengapa juga terasa berbahaya di saat yang bersamaan. Seperti madu bercampur racun yang diberikan sang pemikat, yang perlahan tanpa disadari memabukkan sang penikmat.
Orang lain tak akan pernah mengerti apa yang terjadi dengannya. Atau mungkin langsung menghakiminya? Siapa yang tahu? Akan percuma saja jika ia bercerita bukan? Tapi, mungkin hal itu akan sedikit membantunya untuk menemukan jalan keluar atau setidaknya ... membuatnya merasa sedikit lebih baik.
Ada rasa kasihan saat melihat Jungkook yang semakin menunduk dalam dengan kedua tangan yang sikunya bertumpu pada paha itu menutupi wajahnya lalu perlahan menyusup kasar ke bagian kepalanya, menjambak rambut hitamnya yang mulai berantakan dengan wajah yang terlihat begitu kusut.
Lee Yubi memperhatikannya sejenak sebelum akhirnya jemari itu bergerak menyentuh rahang Jungkook lalu membawanya menoleh.
"Lihat aku," bisiknya lembut.
Wajah Jungkook terangkat perlahan. Tak ada perlawanan di sana.
Muram.
Sorot matanya redup, sementara garis lelah di wajahnya terlihat jauh lebih jelas di bawah sorot lampu remang yang bergantian menyapu wajah tampannya. Untuk pertama kalinya, Jungkook terlihat seperti seseorang yang benar-benar kehabisan tenaga sebab menghadapi pikirannya sendiri. Sangat menyedihkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haphazard || LisKook
Fiksi Penggemar[1st story] - Tahap Reupload Genre : Fanfiction, Romance, Adult. Jeon Jungkook, salah satu anggota dari sebuah boy grup terkenal, BTS, bukanlah Jeon Jungkook ketika tidak ada kamera yang sedang menyorotnya. Image cute, baik, dan berhati lembut bak...
