"Malam ini kau tidak kembali ke dorm?"
"Besok. Besok aku akan kembali ke dorm. Bukankah jadwal latihan kita besok pagi?"
Suara helaan napas Kim Seokjin di ujung sambungan telepon terdengar. Jungkook bahkan bisa membayangkan Seokjin sedang memijat pangkal hidungnya saat ini. "Aku harap kau tak membuat masalah lagi di luar sana."
"Tentu saja tidak. Aku sudah besar, Hyeong. Aku baik-baik saja. Dan aku sudah tahu kemana harus melangkah untuk menentukan arah hidupku."
"Ya ... semoga saja kali ini kau benar-benar serius dengan ucapanmu."
Perkataan Seokjin itu akhirnya membuat Jungkook terdiam.
Untuk beberapa saat, pandangannya tiba-tiba kosong, fokusnya mengabur.
Jungkook memang sudah bisa melangkah, menentukan arah hidupnya sendiri, tapi ... apakah langkahnya ini sudah benar? Bagaimana jika ia mengambil langkah yang salah?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya tanpa henti.
Di luar sana, orang-orang mungkin menganggapnya sebagai pribadi yang baik, tapi kenyataannya ... Jungkook tahu, dirinya tak sebaik itu. Ia tahu, akan semua kelakuan buruknya selama ini. Dan itu memang pilihannya. Pria itu juga tahu akan semua konsekuensi dari apapun yang ia lakukan.
Jungkook mengembuskan napas perlahan.
Lengan kirinya yang masih melingkar pada pinggang Lisa yang tertidur membelakangi Jungkook dalam pelukannya itu mengerat. Napas gadis itu terdengar pelan dan teratur, menyapu punggung tangan Jungkook yang bertumpu di atas perutnya, menciptakan ritme yang cukup menenangkan di tengah kekacauan pikirannya sendiri.
Suara Seokjin di ujung sambungan masih terdengar, sesekali Jungkook menggumam singkat untuk menanggapi obrolan yang dibuat. Akan tetapi, pikirannya sudah tidak benar-benar berada di dalam percakapan itu. Sebagian dirinya yang lain justru menghilang entah ke mana. Ia memikirkan banyak hal sekaligus sampai rasanya kepalanya hampir pecah.
Tentang pilihan-pilihan yang pernah ia ambil, juga kesalahan-kesalahan yang sempat ia buat.
Rasanya ... tak seharusnya ia melakukan itu.
Harusnya, ia berpikir ribuan kali sebelum melakukan seluruh tindakan-tindakan bodohnya di masa lalu.
Termasuk berkelahi dengan Taehyung tanpa sebab yang jelas.
Seokjin bilang apa? Serius dengan ucapannya? Cuih! Bahkan Jungkook saja sebenarnya tak tahu dengan maksud dari ucapannya sendiri.
Untuk pertama kalinya, Jungkook menyadari bahwa menjadi dewasa bukan hanya tentang soal kebebasan.
"Baiklah, karena sudah larut malam maka beristirahatlah. Jangan terlalu memaksakan diri. Aku tutup dulu."
Jungkook tersadar dari lamunannya.
Beberapa detik kemudian, sambungan telepon itu pun terputus. Jungkook menurunkan ponselnya perlahan. Sekilas ia melirik layar ponselnya yang kini telah berubah gelap. Tanpa terasa, percakapan singkat mereka telah berlangsung lebih dari lima belas menit lamanya.
Pandangannya kemudian beralih ke jam digital di atas nakas.
Pukul setengah sebelas malam.
Pantas saja jika kelopak matanya mulai terasa berat. Apalagi suasana kamar yang begitu tenang setelah Lisa akhirnya terlelap dalam pelukannya sejak beberapa waktu lalu, seusai persenggamaan ronde kedua mereka berakhir.
Ya, gadis itu benar-benar menagihnya.
Bayangkan saja, Lisa bahkan mengancam tak mau makan malam jika Jungkook tak menurutinya. Jadi, dengan sedikit berat hati ... dan dengan sangat-sangat bersenang hati Jungkook pun menuruti Lisa dengan menjanjikan hal tersebut asalkan gadis itu mau makan, mengingat perutnya hanya terisi spaghetti buatannya saja tadi siang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haphazard || LisKook
Fanfiction[1st story] - Tahap Reupload Genre : Fanfiction, Romance, Adult. Jeon Jungkook, salah satu anggota dari sebuah boy grup terkenal, BTS, bukanlah Jeon Jungkook ketika tidak ada kamera yang sedang menyorotnya. Image cute, baik, dan berhati lembut bak...
