"Hentikan aku sekarang, atau aku tak akan berhenti lagi setelah ini," ucap Jungkook dengan deep voice setelah berhasil menandai miliknya dengan meninggalkan kissmark di leher juga tulang selangka Lisa.
Napasnya terengah masih sedikit tersengal dengan dada yang naik-turun cepat sesaat setelah Jungkook akhirnya menyudahi ciuman cinta itu. Mata sayunya berkedip pelan, kemudian perlahan beralih menatap Jungkook yang tiba-tiba saja berubah terlihat lebih menarik dari bawah sana. Tanpa sadar, ia menelan ludah saat matanya bertemu dengan tatapan Jungkook yang terlihat lebih gelap penuh hasrat.
Dari posisi ini, ia bisa melihat setiap detail kecil pada wajah Jungkook dengan jelas. Alis tebalnya, bulu mata panjangnya, rahangnya yang begitu tegas, juga bibirnya yang ... memabukkan. Sejujurnya, Lisa tak pernah benar-benar memperhatikan Jungkook, apalagi dari jarak sedekat ini.
Dan Lisa akui, kali ini ... ia kalah, lagi.
Jeon Jungkook selalu berhasil memikatnya, entah dalam keadaan sadar ataupun tidak.
Dalam situasi seperti ini, Lisa tak pernah bisa berpikir jernih. Apalagi kulit tipis di lehernya terasa perih, tapi entah mengapa tak terhiraukan lantaran kali ini Lisa justru memfokuskan pandangannya pada dada bidang pria itu yang terlihat naik-turun seirama dengan napasnya.
Bahu lebar dengan otot-otot lengan yang menegang karena menahan bobot tubuhnya sendiri agar tidak sepenuhnya menindih Lisa itu berhasil menutupi hampir seluruh pandangan Lisa. Ia terlihat ... besar, sangat besar.
Aroma maskulin tubuhnya sukses membuat Lisa menggila.
Keterdiaman itu Jungkook artikan sebagai penerimaan. Penerimaan atas segala tindakan yang telah ia lakukan, sedang ia lakukan, atau mungkin juga yang akan ia lakukan selanjutnya.
"I'll be gentle. I love you."
Gerakan lembut itu akhirnya membuat Lisa mengerang lirih, memejamkan matanya dengan lengan yang sudah mengalung di leher Jungkook, berharap pria itu tak benar-benar lepas kendali.
Bak langit senja yang memeluk cakrawala, keduanya tenggelam dalam kenikmatan yang sama.
Napasnya yang panas menyentuh kulit leher Lisa. "Mendesahlah jika ingin. Jangan coba-coba menahannya dariku," bisik Jungkook dengan suara rendah yang serak tepat di samping telinga Lisa.
Ini bukan pertama kalinya bagi mereka, tapi entah mengapa setiap gerakannya membuat Lisa terhanyut.
"Kau menangis?" Jungkook menghentikan gerakannya sejenak saat menyadari mata Lisa yang berkaca-kaca. "Masih terasa sakit? Apakah aku terlalu dalam?"
Lisa menggeleng kuat dengan napas yang menderu.
Pemuda yang telah menanggalkan seluruh pakaiannya itu sedikit kebingungan. Bukankah ia melakukannya dengan cukup lembut?
Jungkook menatap Lisa beberapa saat, seolah ingin mengabadikan setiap detail wajah perempuan itu ke dalam ingatannya. Kemudian, tangannya bergerak untuk menyelipkan beberapa helai rambut Lisa ke belakang telinganya sebelum perlahan menunduk dan bibirnya mencium lembut kedua kelopak mata Lisa bergantian.
"Katakan padaku jika setelah ini kau masih merasa tidak nyaman."
Ucapan itu menjadi awal dari segala rasa yang bercampur menjadi satu dalam tubuh Lisa.
Hingga akhirnya, dua aliran sungai yang telah lama terbendung itu akhirnya bertemu pada muara yang sama, melebur tanpa lagi menyisakan batas di antara keduanya.
"Other positions?"
***
Malam turun perlahan. Bulan mulai naik menggantikan tugas matahari setelah seharian penuh menemani dua insan yang memadu kasih tanpa memedulikan apapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haphazard || LisKook
Fanfic[1st story] - Tahap Reupload Genre : Fanfiction, Romance, Adult. Jeon Jungkook, salah satu anggota dari sebuah boy grup terkenal, BTS, bukanlah Jeon Jungkook ketika tidak ada kamera yang sedang menyorotnya. Image cute, baik, dan berhati lembut bak...
