"Tunggu ... jangan bilang kau bahkan belum makan apapun sama sekali sejak pagi tadi?"
Kali ini Lisa akhirnya merespons dengan sebuah deheman singkat.
"Hm."
"Kenapa kau tak mengatakannya padaku?! Aku bahkan tak membeli bahan masakan apapun tadi," omel Jungkook.
Akan tetapi Lisa hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh sambil kembali menyuap sepotong mangga ke mulutnya. "Mana aku tahu jika kau akan ke sini. Lagipula ... apa pedulimu?"
"Jelas aku peduli padamu!"
Bagi Jungkook, membiarkan seseorang khususnya Lisa tidak makan seharian jelas bukan hal yang bisa dianggap sepele.
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Lisa hari ini, tetapi satu hal yang pasti, kondisi gadis itu jauh dari kata baik-baik saja. Dan entah mengapa, menyadari bahwa gadisnya sama sekali belum makan membuat amarahnya sedikit terusik. Bukannya apa-apa, tapi setidaknya Lisa harus memperhatikan kesehatannya sendiri. Gadis itu memang keras kepala, dan Jungkook tahu itu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Jungkook lantas bangkit dari sofa.
"Kau mau ke mana?"
"Dapur."
"Untuk apa?"
"Untuk apa lagi? Ya jelas untuk memastikan bahwa kau masih punya sesuatu yang bisa dimakan," omelnya. Sebelum Lisa sempat memprotes lebih lanjut, Jungkook sudah lebih dulu bangkit dari duduknya.
Lagi-lagi pemuda itu bertingkah seolah apartemen ini adalah miliknya sendiri.
Tanpa merasa sungkan sedikit pun oleh sang empunya, Jungkook melangkah menuju area dapur terbuka yang terlihat dari arah ruang tengah itu tanpa menunggu izin dari sang pemilik rumah dengan santai seolah ia sudah hafal persis letak setiap sudut apartemen yang baru saja ia jelajahi beberapa saat lalu.
Sementara Lisa hanya bisa mengikuti pergerakan dan menatap punggungnya kesal dari arah sofa. Sungguh lancang!
Begitu Jungkook sampai di dapur, tangannya langsung menelusuri seluruh laci-laci penyimpanan yang ada di sana. Ia menarik kabinet-kabinet yang ada pada kitchen set, akan tetapi ia tak menemukan apapun.
Pintu-pintu lemari dapur terbuka silih berganti, menampilkan pemandangan yang sama menyedihkannya. Kosong. Tidak ada bahan makanan. Tidak ada bumbu dapur.
Bibirnya berdecak tanpa sadar. "Ck! Bisa-bisanya dia tak memiliki apa-apa seperti ini."
Sampai akhirnya, di salah satu sudut lemari paling atas, ia menemukan seonggok kotak spaghetti berdebu yang nampak begitu miris. Benar-benar hanya satu kotak pasta. Itu saja, tak ada yang lain.
Pria itu menatap kotak spaghetti tersebut selama beberapa detik sebelum memutuskan untuk menyelamatkannya. Matanya dengan seksama langsung menelusuri bungkusnya, dan untungnya tanggal kadaluwarsanya masih terbilang cukup lama.
"Hanya ada ini di lemari dapurmu?"
Lisa yang masih sibuk mengunyah mangga langsung memalingkan wajah. Ia bahkan tak tahu jika masih memiliki sisa stok itu. Ia tadi justru sempat berpikir bahwa spaghetti itu sudah habis.
"Daebakk!!" ucapnya di tengah selingan tawa. "Aku baru pertama kali melihat seseorang yang tinggal di apartemen sebesar ini, tetapi isi dapurnya kosong."
Lisa mendecak pelan.
"Berisik!"
Tidak puas hanya dengan sekotak spaghetti di tangannya, pemuda itu lalu membuka isi lemari es milik Lisa. Dan yang ia temukan lagi-lagi hanya ada air dingin di dalam sana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haphazard || LisKook
Fanfiction[1st story] - Tahap Reupload Genre : Fanfiction, Romance, Adult. Jeon Jungkook, salah satu anggota dari sebuah boy grup terkenal, BTS, bukanlah Jeon Jungkook ketika tidak ada kamera yang sedang menyorotnya. Image cute, baik, dan berhati lembut bak...
