“Ahh … sst—— Hyeong! Jangan terlalu ditekan,” protes Taehyung dengan wajah kesakitan saat jari Seokjin menekan bagian luka di sudut wajahnya yang masih terlihat ungu kebiruan meskipun sedikit lebih memudar.
Taehyung refleks menarik napas pendek dan memejamkan mata dengan rahang mengeras, berusaha menahan desis yang nyaris kembali lolos dari sela bibir. Rasa perih itu benar-benar langsung menjalar, tajam dan terasa menusuk sampai ke tulang pipinya hingga merambat ke bagian pelipis ketika SeokJin kembali mencoba untuk menekan ringan memar itu dengan kapas dan obat merah yang ia bawa. Sensasi perih membuat alisnya berkerut semakin dalam.
“Sst ... serius, ini masih terasa nyeri, Hyeong ....” gumamnya lagi, lebih lirih dari sebelumnya, meskipun jelas terdengar betapa ia benar-benar menahan rasa sakit itu mati-matian.
“Aku sudah berusaha sepelan mungkin, Kim Taehyung ...! Jadi, diamlah! Semakin kau banyak bergerak, maka akan semakin terasa sakit.”
Sudah ada tiga hari, tapi memar itu kian saja meradang, tak kunjung hilang, seolah kulit di sekitarnya enggan menghapus ingatan akan benturan keras yang ia terima malam itu.
Sial! Lagi-lagi kejadian itu.
Taehyung tidak suka ketika ia mengingatnya.
“Kau tahu, Hyeong? Sepertinya tubuhku makin terasa remuk saja sekarang. Padahal sebelumnya aku merasa baik-baik saja.”
“Ya, kau sudah mengatakannya hampir lima kali tadi,” jawab Jin yang masih telaten mengobati luka Taehyung. “ ... kau juga merasa sedikit deman dan meriang sekarang. Itu juga sudah kau katakan tadi, kalau kau lupa.”
Taehyung terkekeh pelan, menyadari kebodohannya sendiri, namun tawa itu langsung tergantikan begitu saja oleh seringai nyeri yang muncul di wajahnya.
“Dan kau tetap enggan dibawa ke rumah sakit untuk sekadar meminta obat. Dasar keras kepala!” Seokjin menekan luka Taehyung dengan sengaja.
“Akh! Hyeong!”
“Sudah lah! Lebih baik minum obatmu dan beristirahat lah di sini sebentar. Aku akan pergi mandi.”
Punggung itu pun menjauh dari jangkauannya, sementara Kim Taehyung akhirnya memutuskan untuk menelan benda pahit itu dengan seteguk air tawar di atas nakas.
Beruntung, ia masih memiliki Kim Seokjin yang berbaik hati memperhatikan kondisinya saat ini, tidak seperti si Jimin, Suga, dan Namjoon yang malah asik menguasai tempat istirahatnya. Sungguh menyebalkan!
'Aku akan istirahat sebentar di sini.'
Tangan itu terangkat naik, mengucek mata sejenak kemudian tubuhnya bergeser sedikit mencari posisi ternyaman, sebelum menarik selimut hingga menutupi sebatas kepalanya lantaran udara dari pendingin ruangan terasa cukup dingin di kulitnya, namun ia enggan, bahkan tak berniat sedikit pun untuk mencari remot AC yang entah terselip di mana.
Awalnya, Taehyung tak bermaksud untuk tertidur, namun tanpa ia sadari efek obat yang baru saja ia minum perlahan mulai bekerja, mengalir ke dalam darahnya, membuat tubuhnya terasa lebih rileks dan meredam nyeri sekaligus menarik paksa kesadarannya tanpa diminta. Membawanya masuk ke alam bawah sadar yang terasa menenangkan.
"Kita tidak bisa melakukannya sekarang, Oppa ...."
Sampai ... sebuah suara yang terdengar cukup familiar berhasil masuk ke dalam alam bawah sadarnya dan membuat Taehyung mengernyitkan alisnya tipis.
Suara itu ...
"Kita tidak hanya berdua di sini."
Samar-samar ia dengar kalimat itu mengalun di antara kesadarannya yang semu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Haphazard || LisKook
Fiksi Penggemar[1st story] - Tahap Reupload Genre : Fanfiction, Romance, Adult. Jeon Jungkook, salah satu anggota dari sebuah boy grup terkenal, BTS, bukanlah Jeon Jungkook ketika tidak ada kamera yang sedang menyorotnya. Image cute, baik, dan berhati lembut bak...
