Chapter 17 - The Plan

4.7K 80 0
                                        

Nesa POV:

Maafin aku, Renno. Aku ngelakuin ini semua demi kesembuhan kamu. Aku nggak mungkin tega melihat kamu terus-terusan tersiksa dengan penyakit itu, harus ada tindakan yang bisa menyelamatkan kamu secepatnya. Tangisku terisak saat membayangkan apa yang akan Renno lakukan kalau dia tau aku minta bantuan Papanya, orang yang paling Renno hindari seumur hidup. Aku terus menangis di dalam taksi yang sedang mengantarkan aku pulang ke rumah. Sesampai di rumah, aku melihat mobil Davi terparkir di dalamnya. Davi? Dia disini? Apa yang akan aku bilang kalau dia liat mataku sembap begini? Cepat-cepat aku mengusap sisa air mata dengan punggung tanganku dan membayar ongkos taksi lalu keluar dengan ragu-ragu. Aku mendorong pagar tinggi rumahku itu dan seketika menimbulkan suara yang berdecit. Otomatis Davi langsung berlari keluar dari rumahku ketika mendengar suara pagar yang berisik ini.

                “Nesa? Lo kemana aja sih?” Davi berlari kecil menuju ke arahku yang kini berdiam diri di tempat setelah menutup kembali pagar. Aku tertunduk dan nggak tau harus jawab apa.

                “Lo... abis nangis?” duh! Ternyata Davi masih bisa liat mataku yang sembap ini, padahal aku udah berusaha menunduk supaya Davi nggak ngeliat mataku memerah dan bengkak karena habis nangis.

“Lo kenapa sih, Nes? Kemana aja tadi?” suara Davi terdengar panik dan bercampur emosi. Kenapa dia jadi tiba-tiba panik gitu ya? Apa dia khawatir dengan aku? Oh please Nesa... jangan mulai GR dan berpikir yang aneh-aneh!

                “Maaf ya, gue bohong sama lo.” aku mengujar dengan rasa bersalah, kepala ini masih aja tertunduk lemas. Dan mataku tiba-tiba berkaca lagi. Karena terus-terusan nunduk, tetesan air mata ini tiba-tiba tumpah semakin banyak.

                Seketika rasanya badanku terhempas ke sesuatu yang lebih besar. Tubuhnya. Tubuh Davi yang kokoh dan atletis ini... sedang memelukku erat. Oh Tuhan, dia menarikku ke dalam pelukannya! Sejadi-jadinya aku menumpahkan semua air mata dan rasa sakit yang ku hadapi belakangan ini semuanya, tanpa terkecuali, ke tubuhnya yang senantiasa memelukku dengan dekapan penuh kehangatan. Aku bisa merasakan dia mengelus kepalaku dan mencium puncak kepalaku dengan hangat. Seketika terbersit kedamaian yang begitu adem di hatiku ketika dia melakukan itu.

Lalu Davi menuntunku untuk berjalan masuk ke dalam rumah dan langsung memaksaku untuk bercerita apa yang terjadi selama ini denganku setelah aku puas menangis di pelukannya. Dan... yaa... mau nggak mau aku terpaksa cerita ke Davi. Kedok kebohonganku udah terlanjur terbuka. Aku cuman berharap Davi mengerti perasaanku dan memaklumi segala tindakanku yang mungkin bisa dibilang bodoh ini. Aku cerita semuanya ke Davi tanpa terkecuali, termasuk apa yang baru aja aku alami di kantor Om Adrian Kusumaningrat.

                “Jadi... Renno sakit.” Davi seperti mengujar ke dirinya sendiri. Aku cuman bisa mengangguk lemas.

                “Gue udah tebak.” Ujarnya lagi, kini menatap mataku dalam-dalam.

                “Tebak?” alisku bertaut dan aku heran dengan ujarannya. Tebak apa maksudnya?

                Davi mengangguk cepat, “Kalo Renno sakit leukemia. Tapi sebelumnya gue ragu,” jawab Davi, “Waktu dia ke rumah lo hari terakhir itu, dia sempat mimisan banyak banget. Dan biasanya kalo orang yang anti capek ataupun terlalu lama di bawah matahari, nggak pernah ngeluarin darah sebanyak itu. Tapi ini... dia ngeluarin darah lebih banyak dari yang biasanya.” Jelas Davi sambil meringis sesaat ketika dia mengingat-ingat lagi kejadian Renno ke rumahku lalu Davi datang menjemputku untuk pergi bersama. Ya, aku sempat ninggalin mereka berdua di bawah, dan aku sempat melihat dari jendela kalo Renno pergi gitu aja selesai bicara dengan Davi sambil menutup-nutup mulutnya. Dan sekarang aku tau kalau waktu itu Renno bukan sedang menutup mulutnya, tapi sedang memegang hidungnya yang mengeluarkan banyak darah.

On The Love-LineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang