Nesa POV:
Dadaku sedikit lebih lega mendengar pernyataan tegas Om Adrian. Persetan dengan tanggapan Renno setelah dia sadar nanti, yang penting Renno akan segera sembuh. Dan kemungkinannya besar. Walaupun sebenarnya dalam hati, aku masih ragu apakah ini keputusan yang tepat untuk Renno, mengingat Renno itu adalah anak yang nekat melakukan sesuatu, mungkin dia bakal melakukan hal-hal yang aneh-aneh kalau dia terus dipaksa untuk mengikuti perintah Om Adrian.
“Gimana kalo Renno masih tetep nolak?” aku bertanya lagi ke Davi, dan pertanyaan itu terus keluar dari mulutku. Davi memutar badannya ke arah kiri dan menatapku dalam-dalam.
“Renno terlalu lemah untuk nolak bokapnya. Gue rasa kali ini dia bakal patuh. Lagian, dia nggak punya pilihan lain kalo mau bertahan hidup.” Jawabnya santai, lalu dia meraih tanganku dengan tangan kirinya, dan menggenggamnya erat. Tiba-tiba tangan itu terasa dingin dan kaku saat Davi pegang, kayaknya nadinya mampet seketika.
“Gue boleh tanya sesuatu?” tanyanya ragu. Aku yang mau nggak mau menatap mata itu dengan penasaran. Lalu aku mengangguk pertanda iya.
“Lo....” kalimatnya terputus, dia berderhem.
“Gue...?”
“Masih... cinta sama... Renno?”
Suara Davi terbata-bata. Entah kenapa tiba-tiba dia jadi gitu. Aku kaget mendengar pertanyaannya. Dan sekarang malah aku yang bertanya ke diriku sendiri, apa aku masih cinta sama Renno? Nggak... antara aku dan Renno udah nggak ada apa-apa lagi. Untuk mencintai dia pun rasanya udah nggak mungkin lagi. Aku nggak pantas berada bersama Renno, karena ada yang lebih pantas berada bersamanya. Diza selalu ada untuk Renno. Diza lah yang seharusnya mencintai Renno dan dicintai Renno, bukan aku lagi.
Aku menggeleng pelan, “Gue sayang sama Renno, kalo soal cinta....” kali ini kalimatku yang malah putus, “gue dan Renno nggak ada apa-apa lagi, gue menyayangi Renno layaknya gue menyayangi lo sebagai sahabat gue.”
DEG! Kenapa malah kalimat itu yang keluar? Menyayangi Renno layaknya aku menyayangi Davi sebagai... ehm, sahabat?! Sahabat? Tapi kenapa dada ini sesak setelah aku mengakui itu? Rasa ini bukan sekedar... haduuuuhhh apa yang aku pikirkan sih? Jatuh cinta sama Davi? Apa iya?
Davi terdiam, lama-kelamaan genggaman tangannya melepaskan tanganku. Entah kenapa aku melihat Davi tiba-tiba jadi salah tingkah. Kenapa dia begitu aneh, sih? Bahkan sejak tadi siang. Dia mengangguk-angguk sendiri sambil tertawa aneh. Aku menyerngit heran melihat tingkahnya yang aneh itu. Lalu dia menoleh ke arahku sambil tersenyum sangat manis. Baru kali ini aku lihat senyumannya begitu tulus dan manis, tapi entah kenapa aku seperti melihat kekecewaan di raut wajahnya.
“Sampai ketemu besok di sekolah.”
Caranya sangat bagus untuk membuatku segera turun dari mobilnya. Oh, dia mengusirku?
“Oke. Hati-hati di jalan.” Aku membalas singkat dan langsung turun dari mobilnya. Aku menatap kepergian mobil itu dengan rasa penasaran yang sangat besar. Anak itu kenapa hari ini?
***
Author POV:
Davi memukul setir mobil dengan keras, betapa geramnya dia dengan kebodohannya hari ini. Oke, udah aku bilang ini pasti bakalan gagal. Goblok! Kenapa aku harus ikutin kata-kata Indra, sih? Harusnya aku tau dia cuman menganggap aku sebagai sahabat. Harusnya aku tau itu dari dulu. Argh! Ocehnya tanpa henti.
KAMU SEDANG MEMBACA
On The Love-Line
Ficção AdolescenteSelalu dia. Entah kenapa selalu wajah dia yang muncul di otakku ini. Walaupun track recordnya sebagai musuh udah aku hapuskan semenjak dia minta maaf. Dia-lah yang terpenting. Hal yang nggak boleh hilang di hidupku, bahkan ketika aku mencintai lagi...
