Davi POV:
Aku mengerahkan pasukan sebanyak mungkin dari kantor –plus Skeleton dan juga Tria- untuk menempelkan ribuan foto-foto yang Jimmy cetak tadi sore, bahkan bi Jamilah, bi Idah dan salah seorang satpam pun ikut membantu mewujudkan ideku ini. Bahkan sebenarnya ideku bukan cuman di bagian penempelan foto-foto ini. Aku merencanakan untuk memutar video-vide klip gila aku dan sahabat-sahabatku di ruang TV yang ingin aku sulap kayak ‘bioskop’ yang berseblahan dengan ruangan green house. Disini aku berperan menjadi Supervisor mereka, mengamati kinerja mereka dan mengomentari tata letak untuk setiap foto dan juga tata letak perabotan di dalam ruang TV. Indra yang tau tentang rencanaku ini langsung menghakimi bahwa ini adalah ide gila. Tapi Tria malah bilang ini adalah ide brilian. Hmm... sebenarnya ini nggak dikategorikan ‘gila’, mungkin ini terbilang ‘gila’ untuk Jimmy yang hanya punya waktu dua jam untuk mengumpulkan, mencetak, dan membawakan semua foto-foto itu ke rumahku yang jauh dari pusat kota. Ha...ha... Sorry, Jim. Gara-gara aku, kau jadi harus bersusah payah begini.
Gotong royong ini berlangsung selama 4 jam lebih. Mulai kerja dari jam setengah 7, bahkan sekarang pun aku belum merasa puas dengan tata letak fotonya. Ada beberapa bagian kaca yang aku harus obrak-abrik sendiri tanpa bantuan siapapun. Dan voila... selesai juga di jam setengah 12! Hhhh... rasanya semua badanku pegal-pegal, dan aku nggak sanggup menyetir pulang ke apartemen yang terletak nun jauh di pusat kota. Mungkin aku harus bermalam disini, sambil menunggu fajar datang, barulah aku bisa kembali ke apartemen dan bersiap menjemput Nesa siang harinya. Duh... aku hampir lupa sesuatu... besok pagi aku harus ke kantor dulu, ngumpulin semua berkas-berkas kerjaan. Argh! Aku menepuk dahiku dengan telapak tangannya. Aku merasa jadi tambah pikun belakangan ini. Haaaaahhhh...!
“Pagi, den Davian. Ini bibi bawakan sarapan untuk aden.”
Aku bisa mendengar suara samar bi Idah dan suara tarikan gorden yang kemudian menimbulkan pecahan-pecahan sinar matahari pagi yang masuk ke dalam kamar. Hmm... aku juga bisa mencium bau susu cokelat panas dan roti panggang yang saaaaaangat membuat perutku menuntut jatah makan pagi. Kemudian bi Idah keluar dari kamarku setelah menyiapkan air panas untuk aku berendam pagi ini. Hmm... ternyata bi Idah masih melakukan kebiasaan-kebiasaan tiap kali aku datang kesini. Menyediakan air panas untuk aku berendam dan mengantarkan sarapan ke kamar.
Setelah selesai menyantap roti panggang dan susu cokelat panas, aku langsung menuju ke kamar mandi untuk berendam sejenak. Masih jam 6, belum terlalu telat untuk balik ke rumah dan bergerak menuju ke kantor. Sebelum aku pergi, aku beranjak masuk ke ruangan green house sambil tersenyum puas melihat ruangan itu kini dipenuhi dengan semua keinginanku. Berharap Nesa akan suka dengan ini. Aku menggoreskan senyuman kecil dan langsung menutup pintu ruangan itu untuk keluar dari rumah.
***
Author POV:
Laporan belum juga Davi selesaikan, tangannya terus mengebut untuk menyelesaikan laporan kerja terakhirnya dengan lihai di papan keyboard komputernya. Nggak lama kemudian, Ario masuk ke dalam ruangan itu sambil bersiul santai. Entah apa yang membuat Ario terlihat kegirangan sambil tersenyum riang.
“Napa lo? Senang banget kayaknya.” Ujar Davi begitu melirik sekilas ke arah pintu siapa yang masuk. Ario mengambil ancang-ancang untuk merebahkan dirinya di sofa ruang kerja Davi.
“Ya senang lah, proyek kita kan udah dinyatakan sukses berat.” Sahut Ario, masih dalam keadaan tersenyum riang.
“Belom sukses kalo bangunannya belom jadi.” Timpal Davi yang nggak mengalihkan pandangannya ke dokumen di sampingnya dan bergantian menatap layar PC-nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
On The Love-Line
Teen FictionSelalu dia. Entah kenapa selalu wajah dia yang muncul di otakku ini. Walaupun track recordnya sebagai musuh udah aku hapuskan semenjak dia minta maaf. Dia-lah yang terpenting. Hal yang nggak boleh hilang di hidupku, bahkan ketika aku mencintai lagi...
