Author POV:
Siapa yang mau ketemu gue pagi-pagi gini? Tria? Tebaknya dalam hati. Kemudian dia langsung berlari kecil ke arah teras luar rumahnya. Dia jelas kaget melihat siapa yang datang pagi-pagi begini dengan keadaan basah kuyup karena kehujanan.
“Ngapain kamu kesini?” tanyanya dengan suara meninggi pertanda shock.
Davi terus menghembuskan napas lelahnya yang sekaligus menghantarkan hawa dingin ke dalam tubuhnya. Badannya basah kuyup, seluruh rambut hingga ujung kakinya dipenuhi bulir-bulir air.
“Aku mau bicara sama kamu... soal lamaran itu.” Jawab Davi spontan.
“Hah?”
“Aku mohon, Nes. Batalkan lamaran itu.”
“Ta... tapi kenapa? Kenapa aku harus membatalkan lamaran itu? Apa hak kamu mengatur hidupku?”
“Aku memang nggak punya hak untuk mengatur hidup kamu, tapi aku bilang soal ini demi kebaikan kamu.” Jawab Davi penuh penekanan. Nesa hanya tertawa sinis mendengarnya.
“Karena aku sayang sama kamu, Nes.” Sambung Davi lagi.
Nesa terdiam mendengar tutur kata Davi yang menusuk tepat ke jantungnya.
“Kalau kamu sayang sama aku, maka belajarlah untuk merelakan aku.” Sahut Nesa sambil menutupi emosinya. Davi tercengang mendengar jawaban Nesa.
“Aku mohon Nes, batalkan lamaran itu. Jangan lakukan ini demi aku, tapi lakukan ini demi kebahagiaan kamu nanti supaya kamu nggak menyesal.”
“Apa maksud kamu?” tanya Nesa sinis sambil menyeka air mata yang kini jatuh satu per satu diiringi jatuhnya tetesan hujan yang semakin lebat dari langit pagi. Suara gemuruh hujan bersaing dengan suaranya yang kian meninggi.
“Aku tau persis Ario itu seperti apa. Dia mabuk-mabukan, tukang main perempuan, bahkan dia udah pernah keluar-masuk hotel dengan pacar-pacarnya.” Jelas Davi emosi. Kini Davi nggak bisa menyembunyikan apapun lagi dari Nesa. Apapun resikonya terhadap hubungan kerja Ario dan Davi serta hubungan mereka sebagai sahabat, Davi tetap nggak mau mempertaruhkan kebahagiaan orang yang paling dicintainya direnggut oleh orang yang udah terbukti bejat.
Ampuni aku, Ya Allah, karena telah membuka aib sahabatku sendiri. Tapi aku nggak bisa membiarkan orang yang aku cintai menikah dengan orang bajingan seperti dia. Aku hanya ingin membuat Nesa bahagia. Davi berbisik sesal dalam hati.
“Walaupun Ario mengaku udah tobat, tapi aku masih tetap nggak percaya. Buktinya aja kemarin Ario pulang pagi gara-gara party sama teman-temannya di kelab. Itu tandanya dia nggak benar-benar berubah.” Jelas Davi lagi. Kini dia bisa melihat Nesa berdiri di hadapannya mematung sempurna bagai patung dewi Yunani. Rahang Nesa mengeras, tangannya terkepal sempurnya, matanya bersembur api yang menyala dan mulai meneteskan air mata sebanyak mungkin, serta jantungnya... kini jantungnya terasa mau mati saat mendengar penjelasan Davi tadi. Terlalu bagus untuk sebuah karangan. Mau nggak mau, Nesa harus percaya dengan semua omongan Davi.
“Aku nggak peduli.” Sahut Nesa cepat.
“Apa?!”
“Aku tetap nggak peduli dengan masa lalu Ario yang kelam.”
Ini GILA! Batin Davi shock.
KAMU SEDANG MEMBACA
On The Love-Line
Teen FictionSelalu dia. Entah kenapa selalu wajah dia yang muncul di otakku ini. Walaupun track recordnya sebagai musuh udah aku hapuskan semenjak dia minta maaf. Dia-lah yang terpenting. Hal yang nggak boleh hilang di hidupku, bahkan ketika aku mencintai lagi...
