Ines kira pertemuannya dengan Hito hanya sebatas one night stand kala itu. Namun, ternyata Hito kembali menghubunginya, hingga pertemuan demi pertemuan membuat keduanya kian dekat dan terlibat dalam hubungan friend with benefits.
Lalu, bagaimana jik...
Terimakasih untuk kalian yang masih menunggu cerita ini :)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Happy Reading
"Selamat siang Mbak Ines," sapa Pak Yudi, satpam kantor salah satu brand rokok besar tempat Ines bekerja.
Sebelum menjawab, Ines melirik singkat name tag satpam itu."Siang Pak Yudi," balasnya ramah
Ines sering kesulitan menghafal wajah orang lain, baginya perlu bertemu berkali-kali untuk bisa mengingat wajah dan namanya orang tersebut. Apalagi dengan banyaknya satpam yang bekerja di sini membuatnya kelabakan.
"Masih sama yang Jazz putih aja nggeh, Mbak? Awet." Sambung Pak Yudi jenakah.
Ines tersenyum kaku, kebanyakan orang juga mempertanyakan hal yang serupa.
Pacar?
Udah ada sih Jazz putih, kenapa masih kerja aja?
"Iya nih, Pak, kebetulan Grab car-nya tetep. Udah langganan soalnya."
Tak ingin berlama di sini, toh Pak Yudi pasti hanya sekedar basa-basi sebagai bentuk keramah tamahan. Ines segera pamit, "Saya masuk dulu ya, Pak. Jamnya udah mepet banget."
"Monggo monggo Mba."
Selepas Ines pergi, Pak Yudi menggaruk bagian belakang kepalanya bingung, jadi bukan seperti yang dibicarakan kebanyakan orang?!
****
Satu team berisi empat orang, terdiri dari 2 SPG, 1 Promotor dan 1 supir yang biasanya juga merangkap sebagai seksi dokumentasi. Dari pukul enam sore mereka sudah berada di Venue acara yang berada di dekat alun-alun Selatan kota Yogyakarta.
"Ada diskon buat maba nggak, Mbak?"
"Beli satu dapet korek plus nomor telepon yo, Mbak?"
"Daripada nggak payu loh, Mbak. Pulang bukannya dapet gaji malah nombok."
Suara ketiga pemuda saling bersahut-sahutan, lalu tertawa terbahak bersamaan. Bahkan tangan salah satu dari mereka dengan kurang ajarnya mengambil rokok yang sedang Ines pegang, sengaja mengelus telapak tangannya.
Menjadi SPGmembuat Ines harus terbiasa digoda, ditawar hingga ditatap remeh dan direndahkan. Sudah resiko pekerjaannya.
Meski hatinya dongkol bukan main menghadapi bocah-bocah prik dan tak memiliki adab, ia tetap mempertahankan senyumannya.
Face fake kealihannya, mungkin hampir semua teman seprofesinya juga begitu.
"Beli satu tetep aku kasih free korek sama nomor telepon kok." Senyum Ines terpatri ramah. "Tapi entar pas pulang kalian masih bisa beli bensin 'kan?" tanya Ines dengan suara yang mendayu lembut.