Ines kira pertemuannya dengan Hito hanya sebatas one night stand kala itu. Namun, ternyata Hito kembali menghubunginya, hingga pertemuan demi pertemuan membuat keduanya kian dekat dan terlibat dalam hubungan friend with benefits.
Lalu, bagaimana jik...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Berusaha beradaptasi, menyesuaikan dengan tempatnya berdiri -Ines Varesha.
Happy Reading
Ines terus merutuki otak standartnya yang hanya bisa fokus selama lima belas menit pertama, selebihnya berkeliaran memikirkan hal-hal tak tentu. Hingga sembilan puluh menit berlalu, akhirnya Dosen menutup pertemuan mereka hari ini.
Menunggu kelas selanjutnya yang akan dimulai satu jam lagi, Ines mengikuti teman sekelasnya duduk di pelataran Gedung Terapi Wicara.
Menebalkan muka, bersikap ramah dan mendekat lebih dulu Ines lakukan supaya mengenal dan dapat berteman dengan segala golongan.
Pandai-pandai membawa diri. Berusaha beradaptasi menyerupai tempatnya berdiri.
Pertemanan di dunia kuliah itu keras.
Tidak pintar, tidak memiliki teman.
Tidak menguntungkan circle, siap-siap diasingan.
Setidaknya Ines harus menjadi rajin dan memilik banyak relasi untuk membantunya. Tapi tetap saja, sebaik-baiknya teman, lebih baik usaha sendiri.
"Join, Nes?"
Menggeram tertahan, Ines yang sudah hampir terlelap bersender pada salah satu pilar gedung terpaksa membuka matanya saat mendengar pertanyaan Desy—teman satu kelasnya. Perempuan berambut sebahu dan pipinya yang cabi sudah duduk tepat di sebelahnya.
"Kemana?" tanya Ines malas.
Tangannya ia pakai untuk menutup mulutnya yang menguap. Dini hari ia baru sampai di apartemen dan pukul 4 subuh harus bangun untuk mengerjakan tugas mata kuliah berikutnya, Disatria atau lebih mudahnya disebut gangguan artikulasi pengucapan.
"Ikut nongkrong, ada Cafe baru buka deket Kampus. Ngamein suasanalah, sekalian bagi-bagi kenalan." Desy menyengir dan Ines merotasikan bola matanya.
"Ogah 'ah, entar kalian kalah saing, aku yang kena damprat," jawab Ines ogah-ogahan.
Sudah terbiasa keluar masuk circle pertemanan, sekedar singgah karena Ines yang menolak menetap.
Sesekali ikut hangout bersama bentuk formalitas. Sebenarnya faktor utamanya karena ketidakadaan uang. Tapi sampai sudah ada Hito sebagai penyokong dananya, kebiasaannya yang perhitungan tetap tidak berubah.
"Sok cantik, kamu!" Desy sewot, tapi membenarkan. Ines memang cantik, tapi bukan yang tercantik di Jurusan mereka. Lebih ke arah menarik. Wajahnya kecil oriental, tubuhnya tinggi dan kakinya yang jenjang. ditambah lagi berkulit sangat putih dan mulus, membuatnya iri setengah mati.
Tak perlu banyak bertindak, Ines sudah populer dengan sendirinya. Apa saja yang dikenakannya, selalu nampak pas dan pantas.
"Emang gue cantik!" jawab Ines yang kini sudah meneggakkan tubuhnya. Menguncit asal rambutnya yang sedari tadi tergerai.